Rabu, 12 Februari 2014

PERILAKU POLITIK JAILANGKUNG

Terkadang, rakyat yang tinggal di pedesaan seringkali dibuat bingung oleh kemunculan orang asing yang tiba-tiba seperti Jailangkung. Kemunculannya tanpa diundang dan kepergiannya pun seringkali tanpa pamit. Kisah ini bukannya hayalan, tetapi sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh masyarakat pedesaan di beberapa daerah terpencil. Cerita itu mengalir bagaikan air bah yang melantahkan sendi kehidupan masyarakat desa bahkan sampai pertahanan terakhirnya.

Kira-kira itulah perilaku para caleg yang akan bertarung pada pemilu 9 April 2014 mendatang. Apapun akan mereka lakukan demi untuk dapat dikenal masyarakat pemilihnya di daerah pemilihan masing-masing. Perkenalan diri kepada masyarakat pemilih disebut sebagai sosialisasi dalam konteks Sosiologi Politik. Di tahun politik, pelbagai strategi, trik, intrik, dan janji politik absah dilakukan walaupun terkesan kurang memperhatikan etiket apalagi aturan yang termaktub dalam PKPU Nomor 15 Tahun 2013 tentang tata cara kampanye, khususnya zonasi pemasangan baliho dan alat peraga kampanye lainnya.

Selasa, 04 Februari 2014

SORRY BRO, AKU TERPAKSA KORUPSI

ICW merilis hasil penelitiannya tentang peningkatan pemberantasan korupsi. Pada tahun 2012 KPK telah menangani kasus sekitar 4.092 kasus korupsi dan di tahun 2013 meningkat menjadi 5.721 kasus korupsi. Hanya sayang, data itu tidak ditambah dengan data kasus tindak korupsi yang sedang ditangani oleh Kejaksaan Agung.

Sepertinya, usaha penyidikan tindak pidana korupsi yang ditangani Kejaksaan Agung kalah pamor dengan lembaga ekstra-ordinary ala KPK dalam menangani tindak pidana korupsi. Diakui atau tidak itulah faktanya. KPK memang lembaga ekstra-ordinary dalam penanganan kasus tindak pidana korupsi.

Dalam menjalankan tugasnya, KPK terus menunjukkan powernya mengejar para koruptor. Terakhir KPK berhasil memulangkan Anggoro Wijaya dari Cina tersangka kasus SKRT di Kementrian Pertanian. Tidak hanya itu, di era kepemimpinan Abraham Samad sebagai ketua KPK banyak pejabat pemerintahan, anggota DPR, Politisi, dan bahkan Menteri aktip menjadi tersangka tindak pidana korupsi. Belum lagi deretan kepala daerah yang mengalami nasib yang sama.

Sabtu, 01 Februari 2014

TIRAKAT POLITIK JARAN GUYANG

Enake jadi penguasa. Kemana-mana selalu dikawal, tidak kena macet karena selalu ada forrider. Kebutuhan sehari-hari sampai akhir masa jabatan dibiayai oleh negara. Tidur di pendopo yang nyaman dan dijaga oleh Polisi Pamong Praja selama 12 jam. Memang enak jadi penguasa, kata amaq Sabar.

Sehingga tidak mengherankan, kalau semua orang ingin menjadi penguasa. Entah menjadi kepala dusun, kades, Bupati atau wali kota, Gubernur, Presiden, dan atau menjadi angota DPR pada semua tingkatannya. Untuk menjadi penguasa, segala daya, upaya dan strategi dilakukan oleh para pencari kekuasaan, entah yang rasional maupun yang irrasional. Menghabiskan uang miliaran rupiah untuk beli suara sampai membayar jasa paranormal demi menggapai kekuasaan. Tentu, tidak ada yang salah semua tindakan para kompetitor jika ditilik dari perspektif minus aturan.

CINDERELLA ACTION

Kalau diterjemahkan "Cinderella Action" berarti tindakan yang mengejutkan. Menjelang Pemilu 2014 sangat besar kemungkinannya akan muncul tindakan yang mengejutkan yang dilakukan oleh partai politik ataupun pemerintah. Cinderella action itu bisa berwujud Undang-undang atau peraturan pemerintah yang melegalkan segala tindakan politik demi kekuasaan.

Perilaku politik Cinderella action menjadi tameng agar tindakan yang dilakukan benar adanya. Masalah-masalah seperti bansos, dana hibah, titip anggaran di satu kementrian atau SKPD seakan menjadi lahan basah untuk mengeruk kekayaan negara untuk kekuasaan dan kepentingan pribadi. Termasuk di dalamnya melegalkan penggunaan mobil dinas dan fasilitas negara lainnya.

DADU SUDAH DILEMPARKAN

"Lacta alea est" atau dadu sudah dilemparkan, kata Victor Ostrovsky. Menang-kalah; benar-salah menjadi wilayah yang abu-abu dalam dunia politik. Dua wilayah itu terkadang berkelindan. Benar bisa menjadi salah, dan salah bisa menjadi benar, inilah realitas yang tersamarkan.

Pernyataan Anas Urbaningrum memang selalu mengundang pernyataan yang debatable topic. Dalam kasus Hambalang, Ia menyatakan bahwa "Hambalang lebih dekat dengan Cikeas darpada Duren Sawit". Para ahli hukum dan pengamat politik terus berbincang tentang apa makna di balik pernyataan Anas itu. Entahlah.

Apa yang mau dikatakan Anas, selalu dinanti publik khususnya media. Karena setiap pernyataannya selalu tidak mengarah ke satu titik tetapi bisa pelbagai titik. Kemungkinan Anas akan membuka lembaran2 yang di dalamnya tercatat nama-nama teman dan koleganya saat masih aktif di partai demokrat. Tetapi saat ini baru satu alinea saja dari sekian lembaran yang akan diungkapnya. Seriuskah Anas?

Dadu sudah terlanjur dilemparkan. Anas kini sudah ditahan KpK. Anas satu dari mata dadu yang sudah di lemparkan. Masih ada mata dadu-mata dadu lainnya. Siapakah mereka itu? Hanya Anas yang tahu dan tentu Dia tidak mau sakit sendirian. Apa lagi sampai saat ini, Ia masih menganggap dirinya tidak bersalah dan hanya dikurbankan.