Sabtu, 05 Januari 2013

LIVING MOMENT TO MOMENT


Ali bin Abi Thalib mengatakan "orang yang sukses hidupnya adalah orang yang ketika lahir ia tertawa dan ketika meninggal dunia ia tersenyum". Makna apa yang mau disampaikan Ali dari pernyataannya itu. Bukankah, pernyataannya itu amat sulit ditemukan atau dialami oleh manusia kebanyakan. Mungkin, hanya manusia pilihan Allah yang dapat melakukannya atau sebut saja para calon nabi atau kekasih Allah.


Kesuksesan hidup bagi manusia biasa mungkin beda dengan kesuksesan hidup para kekasih Allah sebagaimana Ali menyatakannya, setidaknya dari segi kualitasnya. Bagi sebagian kita, baru disebut sukses ketika tujuan yang direncanakan tercapai dan tidak lebih dari itu. Sementara yang lainnya, baru disebut sukses ketika semua kebutuhan materialnya terpenuhi, entah itu, jabatan politik, berada di puncak kariernya ataupun mendapatkan keuntungan berlebih dari usaha yang dilakukannya. Itulah keuksesan hidup bagi kaum materialistik peodalism.

Berbeda dengan orang muslim, kesuksesan sejati tidak akan ditemukan di dunia ini tetapi hidup setelah mati. Di sanalah kesuksesan hidup yang sejati. Hidup di dunia sebatas medium pengembaraan untuk menemukan dan menelusuri lorong waktu mencari makna hidup menuju kesejatian. Atau dalam bahasa Ngabehi Ronggo Warsito kehidupan di dunia tidak lebih dari sekedar memanfaatkan waktu yang ada untuk kemudian menuju ke keabadian waktu guna menggapai kesuksesan hidup.

Kehidupan di dunia sebagai ladang kehidupan akhirat, kata Nabi Saw dalam haditsnya. Makna hadits itu sudah sangat familiar bagi kaum Mukmin. Namun tidak banyak yang bisa memahami makna lain dari episode kehidupan di dunia menuju kehidupan abadi. Artinya, kesuksesan demi kesuksesan akan selalu digapai oleh kaum Mukmin selama menjalani kehidupan di dunia ini sebelum mencapai kesuksesan hidup yang sejati. Hanya saja dalam setiap episode kesuksesan hidup akan selalu dihadapkan dengan pelbagai rintangan dan kendala yang mesti disingkirkan, itulah hukum alamiah yang telah ditetapkan Tuhan atau dalam bahasa agama itulah sunnatullah.

Setiap episode kehidupan yang dijalani dalam keseharian harus mampu diambil nilainya demi kualitas kesuksesan. Tidak ada perbuatan atau perilaku manusia yang bebas nilai, kata Filosof Witgenstein. Oleh karena itu, manusia harus tetap berada dalam kontrol rasio dan batinnya untuk dapat menangkap nilai dan makna hidup dari setiap episode kehidupan yang dijalaninya.

Hidup seharian yang dilakoni manusia bagaikan suatu drama yang dilakoninya sendiri untuk kesuksesan alur cerita hidup sukses manusia. Kesuksesan manusia secara personal tidak ditentukan oleh keakuannya sendiri, namun ada andil manusia lain dan juga Tuhan tentunya. Tiada bermakna suatu kesuksesan hidup manakala tidak merembes atau menetes kepada manusia lainnya. Dengan demikian, kesuksesan hidup yang bernilai tinggi adalah kesuksesan personal yang menghantarkan orang lain untuk sukses juga.

Kesuksesan seorang pemimpin manakala kepemimpinannya mampu mensejahterakan rakyatnya. Tidak ada manfaatnya seorang pemimpin yang memperoleh penghargaan pelbagai macam sementara rakyatnya memble atau ngedumel membicarakan pemimpinnya yang tidak peduli nasib rakyatnya. Penghargaan dalam bentuk selembar kertas bagi rakyat tidak bernilai apapun kalau si pemimpin akhirnya tidak mampu mensejahterakan rakyatnya, kecuali bagi personal pemimpin. Artinya episode kepemimpinan untuk kesejahteraan rakyat telah dinapikan oleh si pemimpin. Karena itu, kebanggaan si pemimpin hanya sebatas personal dan dengan demikian si pemimpin telah gagal menjalankan amanah.

Kesuksesan terbaik dengan demikian, suatu kesuksesan yang mampu mengambil nilai dari setiap "living moment to moment". Pada setiap moment kehidupan terdapat hamparan nilai yang dikandungnya, tinggal bagaimana mengambilnya. Moment sebagai pemimpin hendaknya mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Moment sebagai kepala rumah tangga atau ibu rumah tangga juga harus mampu memberikan contoh yang baik anggota keluarga yang lain. Dan moment sebagai apapun juga harus mampu memberikan yang terbaik bagi kemanusiaan.

Kemampuan mengambil manfaat dari "living moment to moment" merupakan medium untuk menggapai sukses hidup yang sejati. Tersadari atau tidak, tiada suatu kesuksesan yang datang serta merta dengan menampakan wajah anggunnya, namun kesuksesan datang dari suatu proses yang sangat panjang dan melelahkan. Itulah proses "living moment to moment" yang harus dijalani manusia demi kesuksesan hidup yang sejati. Wallahul Musta'an ila Darissalam.

0 komentar: