Jumat, 16 Agustus 2013

SURAT CINTA DARI TUHAN

Sekitar pukul 2.00 Wita. Dini hari, saya masih mendengar orang membaca alqur'an. Saya tidak mengetahui sumber suara itu, namun yang jelas bahwa suaranya sangat merdu dan dibaca dengan makhraj yang sangat fasih. Dalam hatiku, saya bergumam bahwa alangkah cintanya orang yang membaca alqur'an itu kepada Tuhannya. Membaca alqur'an sama saja dengan membaca surat cinta dari kekasihnya. Diturunkannya alqur'an kepada manusia melalui Rasulullah Muhammad Saw merupakan bentuk kecintaan dan kasih sayang Tuhan kepada ummat manusia khususnya ummat Islam.

Suara itu, terus saja terdengar merasuk ke dalam fikiran dan kalbuku. Tanpa sadar pandanganku tertuju ke dinding tempat jam tembok tergantung. Ternyata jarum jam sudah berada di angka 3.10 Wita dini hari. Artinya saya sudah duduk mendengarkan lantunan ayat suci alqur'an sekitar satu jam lebih. Hanya, saya mendengarkan suara lantunan itu bersifat monoton dan kemungkinan dibaca oleh seseorang yang sangat mencintai Tuhannya. Dia terus saja membaca tanpa digantikan orang lain, sehingga semakin kuat dugaanku bahwa memang hanya seseorang yang masih belum tertidur. Sementara yang lainnya tertidur pulas dengan tanpa merasa terganggu oleh lantunan bacaan ayat-ayat suci alqur'an di sebelahnya.


Saya menganalogikan bahwa alqur'an sebagai kumpulan surat cinta dari Tuhan kepada manusia berdasarkan cinta dan kasih sayang yang tulus. Sebagai surat cinta, wajar kalau sang penerima surat cinta akan terus membacanya berulang-ulang tanpa pernah merasa bosan. Semakin dibaca, semakin menambah rasa cintanya kepada yang dicintai dan disayanginya. Siang malam terus dibacanya sampai akhirnya rasa cintanya semakin kuat dan rasa sayangnya tanpa terbendung. Tidak ada yang mampu menghapus rasa cinta dan sayang selain cinta dan sayang itu sendiri tercabut dari akarnya. Begitulah seharusnya pecinta berperilaku.

Masalahnya, seberapa banyak orang menyadari bahwa alqur'an itu sebagai surat cinta dari Tuhan. Saya meyakini bahwa kita ummat Islam tahu akan hal itu, namun belum banyak yang memahaminya. Mereka yang faham akan menghabiskan banyak waktu untuk terus membaca, memahami, mengkaji dan meneliti tentang makna yang terkandung dalam alqur'an. Waktu-waktu terasa kurang kala mereka sudah mulai memahami ayat-ayat alqur'an. Mereka akan membacanya berulang kali dan setiap dibaca selalu akan mendapatkan sesuatu yang baru dan di sinilah kemukjizatan alqur'an. Pada aras ini, kenikmatan, ketenangan dan ketundukan menjadi atsar nyata bagi pengkaji alqur'an. Lantunan bacaan alqur'an sampai dini hari menjadi contohnya.

Namun, tidak sedikit pula yang menjadikan alqur'an sebagai pelengkap di rumahnya. Saya percaya bahwa setiap keluarga muslim mempunyai sebuah alqur'an di rumahnya, namun sangat jarang dibaca. Hal itu terlihat dari keadaan cover dan kertasnya yang masih tampak baru. Saya mencoba mengamati dengan bertanya apakah setiap kepala keluarga bisa membaca alqur'an? Ternyata tidak semua kepala keluarga bisa membaca alqur'an sehingga menjadi wajar kalau alqur'an selalu terlihat baru.

Dalam komunitas Islam Wetu Telu di Lombok, surat cinta Tuhan atau alqur'an hanya dibuka pada saat perayaan hari- hari besar agama, mauidan. Selebihnya mereka menyimpannya di tempat yang tinggi di dalam masjid kuno. Beda perlakuan komunitas ini dengan masyarakat lainnya terlihat pada kepemilikan alqur'an. Maksudnya dalam komunitas Islam Wetu Telu alqur'an hanya terdapat di masjid kuno sementara pada masyarakat Islam lainnya ada pada setiap rumah. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa alqur'an oleh kebanyakan muslim masih diperlakukan sama sebagaimana buku lainnya. Dibaca disaat dibutuhkan kemudian menyimpannya kembali kalau sudah tidak membutuhkannya. Karena itu, menjadi wajar kalau alqur'an pada setiap rumah kepala keluarga terlihat baru.

Menghidupkan kembali kegiatan "magrib mengaji" bisa menjadi cara terbaik untuk membiasakan membaca dan memhami kandungan surat cinta Tuhan itu. Kebiasaan magrib mengaji sudah semakin menghilang dalam keluarga muslim Sasak. Kalaupun ada, hanya pada tempat-tempat tertentu di suatu desa. Saat saya masih kecil, kegiatan magrib mengaji masih sangat semarak. Setiap rumah keluarga muslim Sasak, tanpa dikomando akan membaca alqur'an dan atau sang ayah akan mengajari anaknya membaca alqur'an kala waktu magrib menjelang. Sehingga generasi emas magrib mengaji tampak dalam keluarga muslim Sasak atau dengan kata lain tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak bisa membaca alqur'an.

Kini kegiatan magrib mengaji sudah menjadi barang langka dari keluarga muslim yang tergantikan dengan magrib menonton televisi. Pada aras ini, anak-anak kita lebih pandai bersilat lidah dengan teriakan yang memekakan telinga karena terpengaruh dengan film-film Naruto, Satria Baja Hitam, Sincan, Power Ranger, Spongebob dan lainnya. Mereka sudah tidak lagi bisa menghafalkan huruf-huruf Hijaiyah, sehingga hasilnya banyak dari generasi muda yang tidak bisa membaca alqur'an. Sungguh kita telah rugi menjadi arang tua yang tidak mampu memberikan pemahaman surat cinta Tuhan itu.

Menyadari akan kekeliruan itu merupakan jalan terbaik untuk menghidupkan kembali magrib mengaji dalam rangka memahami kandungan isi dari surat cinta Tuhan kepada ummat manusia. Dengan kita bisa membaca Alqur'an atau surat cinta Tuhan ini, maka kita akan semakin dekat dan rindu pada Tuhan. Keselamatan, ketenangan dan kesuksesan hidup akan menjadi milik kita bila tetap berpegang pada alqur'an. Syaratnya, bisa membaca dan memahaminya. Semoga Allah Swt tetap mencurahkan kasih sayang dan cintanya kepada kita melalui kebisaan membaca lalu memahami alqur'an atau surat cinta Tuhan. Wallahul Muwafiq ila Darissalam.

Tanak Beak, 02082013.10.29.39.

0 komentar: