Jumat, 18 Oktober 2013

KESETIAAN SEORANG ISTRI

Siang ini saya sedang berada di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Sy sedang menunggu jadwal keberangkatan menuju Lombok via Surabaya. Sambil menunggu jadwal keberangkatan saya berbincang-bincang dengan seseorang dari Pontianak. Secara kebetulan orang itu adalah pebisnis yang punya usaha di sana. Saat perbincangan berlangsung, tiba-tiba datang seorang ibu menyela perbincangan kami yang meminta tempat duduk salah seorang dari kami untuk suaminya. Si suami tanpa basa basi duduk di kursi yang kami tinggalkan, sementara si istri berdiri mematung sambil memandang suaminya dengan setia.

Melihat kondisi dan suasana seperti itu, saya pun berdiri lalu mempersilahkan si perempuan paruh baya untuk duduk di dekat suaminya. Tanpak raut wajah si perempuan berseri-seri dipersilahkan duduk. Hal itu terlihat dari caranya melihat kami ketika mempersilahkannya duduk, hanya ucapan terima kasihnya tidak terucap namun tersirat dari gerak tubuhnya. Kami hanya bisa mencuri pandang betapa pasangan suami paruh istri paruh baya itu terlihat tenang seolah tiada beban terpancar dari raut wajahnya.


Terus terang, saya sangat terkagum pada ibu itu, yang begitu setianya mencarikan tempat duduk bag suaminya. Menurut saya, tidak banyak perempuan yang berbuat seperti ibu itu. Masalahnya, apakah yang dilakukan oleh si ibu semata-mata karena kesetiaan dan kebaktiannya kepada suaminya ataukah karena si ibu terpaksa melakukannya karena takut kepada suaminya? Entahlah. Namun, dari penglihatan terhadap body language si ibu, tidak tanpak tanda-tanda keterpaksaan. Si ibu melakukannya demi kesetiannya kepada si suami, hal itu terlihat ketika keduanya telah duduk bersanding di kursi tunggu bandara Adi Sucipto Jogjakarta.

Dalam konteks Islam yang saya fahami, apa yang dilakukan si ibu untuk suaminya sangat wajar jika merujuk pada nash yang menyatakan bahwa "Arrijalu qawwamuna ala An-Nisa" maksudnya lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Sehingga apa yang dilakukan si ibu masih wajar dan sebagai bentuk kesetiannya pada suaminya. Lalu bagaimana dengan si suami yang telah diupayakan tempat duduk oleh istrinya? Saya tidak melihat koneksitas ucapan apapun kepada istrinya atas usaha yang dilakukan, selain ucapan terima kasih kepada kami yang harus merelakan tempat duduk buatnya. Awalnya kami berharap istrinya yang seharusnya dipersilahkan duduk oleh si lelaki karena si perempuan lebih tua dibandingkan suaminya. Kami hanya bisa mencuri pandang terhadap pasangan suami istri itu. Tampaknya mereka pasangan yang harmonis dan semoga demikian adanya.

Tentu, tidak perlu diperdebatkan secara etik terhadap perilaku si istri kepada suaminya dan begitu sebaliknya. Maksud saya bahwa apakah lelaki sebagai pemimpin harus mengutamakan dirinya dibandingkan dengan orang yang dipimpinnya. Perilaku ideal seorang pemimpin adalah merasakan sakit duluan dari pada orang yang dipimpinnya dan bila senang, ia harus senang belakangan dibandingkan dengan orang yang dipimpinnya. Perilaku ini yang saya tangkap dari kepemimpinan Nabi Muhammad Saw dan Khulafurrasyidien. Hal ini yang telah hilang dari para pemimpin di negeri tercinta Indonesia Raya.

Perilaku para pemimpin kita lebih mementingkan diri, keluarga dan sahibnya terlebih dahulu baru kemudian jika ada kesempatan berfikir untuk kelompok dan terakhir masyarakat. Pola fikir seperti tersebut di atas sudak membudaya di negeri ini, sehingga wajar kalau kekayaan dan kemakmuran tidak pernah keluar dari lingkaran dinasty yang telah terbangun dengan penuh kesadaran.

Secara etika politik tentu salah membangun kekuasaan atas dasar dinasty, namun dari perspektif demokrasi politik dinasty tidak salah karena menjadi hak konstitusi setiap warga negara. Namun, demikian harus diatur sehingga kekuasaan tidak bertumpuk pada satu keluarga atau clan tertentu sebab akan dapat mengancam kebhenekaan yang selama ini telah terjalin di Indonesia.

Duduk manisnya si suami yang diusahan kursi oleh istrinya mengingatkan saya akan sosok bunda putri yang masih menjadi misteri. Peran penting bunda putri pada kasus inpor daging sapi yang melibatkan Mantan presiden PKS telah membuka mata kita semua. Bukankah kita masih menunggu eksistensi bunda putri yang sesungguhnya? Kita tidak berharap bunda putri hanya tekaan atau hayalan LHI untuk mengalihkan isu semata. Bunda putri mungkin sangat berperan tetapi mari kita tunggu sosok bunda putri yang sebenarnya. Adakah ia, sosok istri yang menina bobokkan para suami untuk berkuasa demi kekayaan ataukah dongeng ketakutan dari para tersangka kasus daging sapi yang menghebohkan itu. Kita tunggu saja.

Adi Sucipto, Jogjakarta, 18102013.12.37

0 komentar: