Kamis, 26 Desember 2013

POLISI WANITA BERJILBAB

Ketika melintas di bundaran Hotel Indonesia, saya melihat seorang Polwan Berjilbab sedang mengatur lalu lintas. Terlihat Polwan sangat anggun dan cantik mengenakan jilbab di tengah kemacetan dan padatnya arus lalu lintas hari Senen pagi kemarin. Saya tidak melihat kecanggungan sedikitpun dari Polwan Berjilbab saat menjalankan tugasnya. Dia sangat menikmati tugasnya sebagai abdi negara dalam mengatur kelancaran arus lalu lintas di Ibu Kota Jakarta. Lalu, mengapa petinggi Polri sibuk sendiri dengan fikirannya tentang Polwan berjilbab? Saya yakin dengan Polwan berjilbab tidak akan mengganggu kinerja mereka? Sebaiknya, petinggi Polri jangan membangun asumsi bahwa jilbab akan mengganggu kinerja para Polwan?

Memang Polwan berjilbab menjadi wacana yang mengusik ruang private kita. Polwan berjilbab semestinya tidak usah sampai menghabiskan energi yang berlebihan untuk diperdebatkan. Biarkan saja Polwan berjilbab atau tidak berjilbab tidak usah dikekang, hal itu merupakan pilihan atas dasar kesadaran sebagai seorang pemeluk agama Islam. Kalau terus dikekang, sama saja artinya bahwa Polri telah mengekang hak asasi manusia. Yang harus dilakukan Polri adalah membuatkan aturan agar para Polwan nyaman dan tenang menjalankan tugasnya sebagai abdi negara dengan mengenakan jilbab.


Kuantitas perempuan berjilbab (termasuk Polwan) di Indonesia semakin meningkat akhir-akhir ini. Apakah itu, lalu berarti tingkat keagamaan maayarakat pun mengalami peningkatan? Yang pasti ada banyak alasan mengapa perempuan berjilbab. Sebagian memutuskan berjilbab setelah melalui perjuangan panjang dan akhirnya meyakini bahwa itulah pakaian yang diwajibkan Islam. Jadi, alasannya sangat teologis. Sebagian memakai jilbab karena dipaksakan oleh aturan, terutama karena banyaknya Peraturan Daerah tentang keharusan berjilbab. Sebagian lagi karena alasan psikologis, tidak merasa nyaman karena semua orang di lingkungannya memakai jilbab. Ada lagi karena alasan modis, agar tampak lebih cantik dan trendi, sebagai respon terhadap tantangan dunia model yang sangat akrab dengan perempuan. Ada juga, yang berjilbab karena alasan politis, yaitu memenuhi tuntutan kelompok Islam tertentu yang cendrung mengedepankan simbol-simbol agama sebagai dagangan politik.

Apapun alasan seorang Muslimah berjilbab patut diapresiasi dengan positif. Namun, yang lebih baik seseorang berjilbab dengan dan atas kesadaran pilihan sendiri tanpa ada paksaan. Mungkin akan lebih baik kalau Polri segera mengeluarkan regulasi agar para Polwan dapat memilih untuk mengenakan jilbab atau tidak dengan tanpa dibayangi oleh sanksi yang akan diterimanya bila akhirnya Polwan banyak yang mengenakan jilbab. Saya yakin bahwa masyarakat luas akan mendukung regulasi yang akan dikeluarkan Polri tentang Polwan berjilbab. Sebaliknya, mungkin masyarakat akan mencaci Polri yang terlalu kaku atau sampai mengekang hak asasi Polwan yang ingin mengenakan jilbab.

Kita, tidak usah alergi dengan jilbab. Karena jilbab dapat menjaga kehormatan kaum perempuan yang mengenakannya (termasuk para Polwan). Jilbab bermakna menutup, yang berasal dari kata kerja bahasa Arab jalaba. Jilbab bermakna menutup sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat. Karena itu, jilbab dalam Islam sangat erat kaitannya dengan masalah aurat dan soal hijab.

Namun demikian, memakai jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam, melainkan pilihan berdasarkan keyakinan. Itu hanyalah ketentuan al-Qur'an bagi para istri dan anak-anak perempuan nabi, dan semua perempuan beriman pada itu untuk menutup tubuh mereka atau bagian dari tubuh mereka sedemikian rupa, sehingga tidak mengundang kaum munafik untuk menghina mereka (Siti Musdah Mulia, 2010). Jadi illat hukumnya adalah perlindungan terhadap kaum perempuan. Jika perlindungan ini tidak dibutuhkan lagi karena sistem keamanan yang sudah sedemikian maju dan terjamin, kata Musdah Mulia dalam kata pengantar buku "Psikology Fashion" karya Juneman, maka tentu perempuan dapat memilih secara cerdas dan bebas apakah ia masih mau menggunakan jilbab atau tidak.

Apapun pilihan perempuan harus dihargai dandihormati sehingga terbangun kedamaian di masyarakat. Dalam realitas sosiologis di masyarakat, jilbab tidak menyimbolkan apa-apa; tidak menjadi lambang kesalehan dan ketaqwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan shalehah, sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan shalehah, kata Musdah Mulia.

Tarik ulurnya atau boleh tidaknya Polwan mengenakan jilbab memang masih menjadi misteri di internal Polri, tapi faktanya sudah ada Polwan mengenakan jilbab saat menjalankan tugas. Mungkin Polri berasumsi bahwa jilbab meruapakan ranah sensitif sehingga perlu kebijakan khusus. Karena itu, Polri sangat hati-hati, tapi tidak lantas mengulur-ulur waktu. Yang pasti bahwa Polri harus segera mengeluarkan kebijakan menyangkut Polwan berjilbab.

Jadi, mengenakan atau tidak mengenakan jilbab, dan atau menanggalkan jilbab sekalipun sesungguhnya merupakan pilihan atas dasar keyakinan rasional. Apapun latar belakang pilihannya, baik atas dasar teologis, ideologis, psikologis, modis, dan politis, maka harus dihormati dan diapresiasi positif. Begitu juga dengan Polri harus menghormati pilihan Polwan yang mengenakan jilbab selama tidak mengganggu kinerja dan tugas-tugas kenegaraan. Saya berkeyakinan bahwa Perempuan berjilbab bukan sebagai penghalang untuk berprestasi dalam semua lini kehidupan. Bahkan sudah banyak bukti bahwa prestasi perempuan berjilbab bisa mengalahkan kaumnya yang tidak berjilbab dan bahkan lelaki sekalipun.

Semoga, keinginan Polwan berjilbab tidak terus menerus dipolemikkan. Untuk itu, Polri harus segera mengeluarkan kebijakan atau regulasi khusus menyangkut jilbab di tubuh Polri. Polwan berjilbab, kenapa tidak.

Wallahul Muwafiq ila Darissalam.
Pinggiran Hutan Suranadi, 11122013.12.05


0 komentar: