Kamis, 26 Desember 2013

MEMBINCANG KONDOMISASI BANGSAKU

Forum Ummat Islam dua minggu terakhir ini terus berusaha mengetuk kesadaran dan hati nurani pemerintah yang dalam hal ini Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Persoalan utamanya berkaitan dengan rencana Kementrian Kesehatan yang akan melaksanakan pekan kondomisasi. Kita tidak tahu apa yang diinginkan Kementrian Kesehatan dengan program pekan kondomisasi, kata salah seorang aksi di depan Istana Negara beberapa waktu yang lalu.

Ada dua perspektif yang berbeda tentang pekan kondomisasi yang digagas Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Perspektif pemerintah tentang urgensi pekan kondomisasi, berangkat dari keprihatinan meningkatnya orang yang terjangkit penyakit HIV Aids di Indonesia. Dari data yang dikemukakan oleh komunitas peduli HIV Aids ada sekitar 12 juta orang di tahun 2011 yang terjangkit penyakit yang mematikan ini. Terjadi peningkatan kuantitas orang terjangkit HIV Aids dari tahun sebelumnya.


Berangkat dari data tersebut di atas, tentu pemerintah tidak bisa tinggal diam terhadap penyebaran virus HIV Aids yang ditularkan melalui hubungan seksual antara laki-laki dengan perempuan. Potensi penyebaran virus HIV Aids bisa melalui laki-laki maupun perempuan. Dan yang paling mungkin penyebar terbesar virus mematikan ini dari kaum laki-laki, karena memang lelaki hidung belang lebih banyak. Dari hasil penelitian terungkap bahwa kuantitas lelaki hidung belang sekitar 6 juta orang sedangkan perempuan penjual jasa seksual sekitar 600 orang. Artinya 1 perempuan bisa melayani sekitar 30 orang lelaki hidung belang.

Dengan demikian, lelaki memang berpotensi lebih besar sebagai penyebar virus HIV Aids dibandingkan kaum perempuan. Kondisi tersebut diperparah dengan keengganan kedua pihak tatkala berhubungan seksual tidak mau menggunakan kondom. Padahal mereka sadar bahwa dirinya mengidap atau terjangkit virus mematikan itu.

Berangkat dari kondisi tersebut, maka pemerintah berupaya untuk menyadarkan mereka untuk dapat berhubungan secara aman dengan menggunakan kondom. Setidaknya penggunaan kondom ini dapat meminimalisasi penyebaran virus HIV Aids kepada keluarga dan orang lain, kata Wamenkes Republik Indonesia saat dialog di Metro TV.

Apa yang dihajatkan pemerintah ini tidak direspon positif oleh masyarakat, khususnya yang terindikasi terjangkit virus itu. Tidak pula masyarakat pada umumnya. Padahal pembagian kondom ini diberikan cuma-cuma atau gratis. Bagi mereka yang mengejar kenikmatan seks semata pasti tidak akan pernah mau mengunakan kondom apalagi mereka sampai mengeluarkan materi yang tidak sedikit untuk sekedar kenikmatan semata. Kelompok inilah yang disebut hedonism seksual. Apapun akan dilakukan demi suatu orgasme puncak kenikmatan seksual.

Oleh karena itu, rasanya keinginan pemerintah untuk memberikan rasa aman bagi penikmat seks bertepuk sebelah tangan. Secara kasat mata terlihat bahwa pekan kondomisasi itu hanya akan menguntungkan industri penyedia kondom itu. Atau dengan kata lain bahwa pekan kondomisasi itu hanya sebatas proyek dan pesan sponsor. Kalau memang pemerintah serius menangani penyebaran virus HIV Aids itu, maka seharusnya pemerintah tidak mempromosikan terus menerus produk kondom itu. Apalagi sampai membagikannya secara gratis. Hal itu sama artinya dengan mendorong masyarakat untuk terus berhubungan seksual, padahal tidak seharusnya begitu.

Dengan kondisi itu, maka wajar muncul kritikan dan kecaman dari masyarakat terhadap program pekan kondomisasi tersebut. Kelompok masyarakat inil menjadi kelompok yang mewakili perspektif kedua tentang pekan kondomisasi itu. Perspektif masyarakat yang menentang pekan kondomisasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia ini berasumsi bahwa pekan kondomisasi itu sama artinya dengan menyuruh orang berbuat seksual sesukanya, kapan dan dimanapun.

Pemerintah seharusnya tetap melakukan penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya penyakit kelamin yang dilakukan secara bebas. Hal yang harus dilakukan pemerintah adalah menutup tempat-tempat lokalisasi, seperti yang dilakukan gubernur Jawa Timur dengan menutup lokalisasi Doli (lokalisasi yang paling besar di Asia Tenggara). Serta terus menerus melakukan rahazia terhadap tempat-tempat transaksi seks liar dan warung remang-remang.

Seandainya hal itu diprogram pemerintah, sudah barang tentu akan didukung oleh masyarakat Indonesia umumnya (setidaknya anti seks bebas). Saya fikir, forum ummat Islam pasti akan mendukung dua ribu persen, dan juga masyarakat yang masih berfikir normal.

Cara lainnya, pemerintah harus mendukung komunitas anti HIV Aids yang ada di Indonesia. Eksistensi kelompok ini ternyata banyak membantu masyarakat untuk kembali ke jalan siratal mustaqiem atau jalan lurus. Kita harus mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh komunitas anti HIVAids.

Terus terang, saya membayangkan kalau program pekan kondomisasi di teruskan dengan cara membagi-bagikan kondom di tempat-tempat, seperti pelabuhan secara gratis, maka bukannya akan dipakai oleh penikmat seks tetapi mungkin akan dijadikan mainan oleh anak-anak kecil. Entah itu dikembungkan menjadi balon, diisikan gas menjadi balon udara dan atau dijadikan sebagai ikat rambut. Sangat mungkin terjadi, bukan.

Atau mungkin, dengan adanya pekan kondomisasi akan membawa berkah bagi pemulung, karena kondom dapat di daur ulang menjadi mainan dan di jual kembali dengan harga tinggi setelah menjadi aneka bentuknya. Kata salah seorang teman bahwa ternyata banyak ikat rambut anak-anak kecil yang terbuat dari kondom bekas setelah di daur ulang. Benar atau salah, cerita sahabat saya itu. Namun yang pasti bahwa segala kemungkinan bisa terjadi dan semoga tidak benar.

Tentu kita bersyukur ternyata pekan kondomisasi itu urung dijalankan. Hal ini, berarti pemerintah masih mau mendengar suara hati rakyatnya. Suara rakyat adalah suara Tuhan, kata Aristoteles (Filosof berkebangsaan Yunani). Semoga pemerintah tetap bisa mendengar jeritan suara nurani rakyatnya.

Wallahul Muwafiq ila Darissalam.
Tanak Beak, Narmada, 05122013.21.39


0 komentar: