Kamis, 26 Desember 2013

SHALAT SEBAGAI TERAPI PENGOBATAN

Kisah nyata. Ada seorang anak ustadz yang tidak pernah tahu jalan menuju masjid meskipun orang tuanya adalah seorang yang mengajarkan Al-Qur'an. Harta yang berlimpah dihadapanku telah menghancurkan dan menjauhkanku dari jalan Allah Swt. Namun kemudian Allah Swt berkehendak lain. Aku mengalami kecelakaan mobil (kata sohibul hikayah) yang membuatnya tidak bisa berjalan sama sekali atau lumpuh. Dokter menegaskan bahwa tidak ada sebab-sebab yang jelas mengenai kelumpuhan ini, hanya ada shock neoronitis yang mempengaruhi kemampuannya dalam bergerak.

Suatu hari sebelum saudaranya mendudukannya di kursi roda setelah keluar dari mobil, tiba-tiba terdengar suara adzan shalat magrib. Suara muazzin yang mengumandangkannya begitu merdu, menyentuh hati, dan menggeraannya perasaannya. Seakan-akan baru pertama kali mendengar adzan selama hidup, katanya. Seketika itu, kedua matanya berlinangan air mata. Saudaranya terkejut dan langsung memintanya agar agar mengantarkannya ke masjid untuk shalat bersama jamaah.


Hari-hari berikutnya, ia lalui dengan tekun menunaikan shalat di masjid hingga shalat subuh sekalipun. Meski menanggung penderitaan yang teramat berat, ia tetap bertekad untuk tidak pernah menarik diri dari jalan kembali kepada Allah Swt. Suatu malam sebelum shalat shubuh, dalam mimpi ia melihat ayahnya bangun dari kuburnya dan menepuk pundaknya, lalu dia berkata "Anakku, jangan bersedih, Allah Swt telah mengampuniku karena dirimu". Si anak sangat senang mendengar berita gembira ini dan segera bershalat, bersujud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Dan mimpi si anak telah berulang beberapa kali.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu pagi si anak shalat shubuh di masjid sebelah rumahnya. Ia duduk di atas kursi roda di bagian ujung shaf pertama. Imam mulai membaca doa qunut, lama namun syahdu. Hatiku sangat tersentuh (kata si anak) dengan doanya hingga air matanya mengalir. Tubuhnya gemetar dan hampir saja hatiku melompat dari dadaku. Aku merasa maut telah dekat denganku, kata si anak. Beberapa saat kemudian si anak menjadi tenang dan melanjutkan shalatnya. Setelah mengucapkan salam, si anak ustadz merasakan ada sebuah kekuatan yang menjalar di tubuhnya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa ada kekuatan yang menuntunnya untuk berdiri. Ia pun mencoba bangun dari kursi rodanya dan menggesernya ke samping untuk berdiri dengan dengan telapak kakinya, lalu shalat dua rakaat sebagai rasa syukur ke hadirat Allah Swt.

Jamaah shalat di sekelilingku kata si anak datang memberi ucapan selamat. Air mata mereka mengharu-biru dengan air mata. Kebahagiaannya atas ketulusan perasaan mereka tak terbayangkan. Lalu imam datang berbisik di telinganya dan memeluknya. "Jangan sekali-kali kau lupakan anugerah dan rahmat Allah Swt atas dirimu ini. Jika dirimu kembali bermaksiat terhadap Allah Swt, maka kembalilah kamu ke atas kursi itu dan jangan meninggalkannya selama-lamanya".

Dalam kaitan dengan kisah itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak melaksanakan shalat walaupun dalam keadaan sakit. Sebagai Muslim harus yakin bahwa shalat merupakan terapi pengobatan yang efektif bagi fisik. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata, Rasulullah Saw melihatku ketika aku sedang tidur sambil mengaduh sakit perut. Beliau langsung berkata kepadaku, Hai Abu Hurairah, kamu sakit perut? Akujawab, benar, wahai Rasulullah. Beliau berkata "Bangun dan shalatlah, sesungguhnya dalam shalat terdapat pengobatan".

Kisah tersebuat merupakan kisah nyata yang saya sarikan dari Eksyclpedi Pengetahuan Al-Qur'an dan Hadits. Semoga kisah ini menjadi pengingat-ingat kita untuk istiqomah dan shabar dalam menjalankan shalat wajib lima waktu sehari-semalam dan shalat-shalat sunnah. Semoga kita bisa tetap menjaga shalat kita. Amin.

Wallahul Muwafiq ila Darissalam.
Tanak Beak, 20122013.09.09


0 komentar: