Alkisah, di
musim dingin uang Nasrudin Affandi (seorang sufi) semakin menipis atau tidak
banyak. Panen ladangnya sangat buruk (untuk tidak mengatakan gagal panen) tahun
itu. Karena itu ia harus berhemat.
Begitu juga keledainya. Makannya harus dikurangi. Tiga hari setelah
keledainya dikuranggi makannya, kondisi keledai kelihatannya tetap sama. Karena
itu Nasrudin berkata pada dirinya sendiri, “keledai ini biasanya makan banyak.
Sekarang ia telah biasa makan sedikit. Dan lama-lama akan terbiasa pula tidak
mau makan sama sekali” (Idris Syah, 1994).
Demikianlah
untuk selanjutnya setiap hari ia kurangi sedikit demi sedikit jatah makanan
untuk keledainya, sehingga pada akhirnya si keledai tidak mau makan sama
sekali. Suatu hari, ia membawa keledainya ke pasar dengan muatan yang sangat
banyak. Di tengah jalan keledai itu rebah dan mati seketika. “oh betapa malangnya
aku ini, serunya. Keledaiku mati justru pada saat ia terbiasa tidak makan
apapun. Pasti ini merupakan tanda kiamat.
Kisah sufistik
di atas seakan begitu nyata di dalam kehidupan kita saat ini. Tanda-tanda
kiamat telah terang benderang mengitari kehidupan kita, tinggal kapan akan
terjadinya? Itu menjadi rahasia Allah Rabbul Izzati semata. Manusia tidak
diberikan pengetahuan tentang datangnya hari kiamat itu dan hal ini menjadi
bukti kebohongan manusia yang mengatahuinya, seperti seorang Pastur dari Negara
Amerika yang telah meramalkan datangnya kiamat, tetapi semuanya tidak terbukti.
Pengetahuan yang
dimiliki manusia sebatas pada tanda-tanda semakin dekatnya kiamat, sebagaimana
kisah sufistik di atas. Tanda lainnya seperti rusaknya lingkungan hidup tempat
dimanusia dapat hidup tenang dan meneruskan keturunannya. Perusakan lingkungan
hidup bukan diakibatkan oleh kemurkaan Tuhan, tetapi lebih disebabkan oleh
perilaku manusia yang tanpa batas. Atau dengan perkataan lain, kedatangan
kiamat justru diundang sendiri oleh manusia. Alqur’an sebagai kitab suci telah
dengan jelas mengisaratkan bahwa “kerusakan
di daratan dan lautan akibat dari perilaku manusia”.
Berkaitan dengan
itu, ketika saya masih kecil, sungai yang terdapat di sebelah selatan desa
Tanak Beak masih sangat terawat dengan baik dan tampak begitu sangat indah. Berbagai
macam ikan hidup dengan tenang dan bersahabat dengan manusia. Ia tidak merasa
terancam dengan kedatangan manusia yang hendak mandi dan kegiatan lainnya. Sambil
menyelam kita bisa dapatkan ikan atau udang yang bersembunyi di balik bebatuan.
Kini, kami heran
kemana ikan-ikan itu bersembunyi? Kami dapat menyaksikan masyarakat desa yang
punya hobi memancing dengan kesabaran tinggi, menunggu berjam-jam tidak satupun
bangsa ikan yang sudi mampir untuk sekedar memberi kesenangan pada si pemacing.
Semua seakan hilang lenyap tanpa bekas. Inikah tanda-tanda kiamat itu,
sebagaimana kisah Nasrudin di atas, tetapi entahlah. Semoga saja Tuhan tidak
murka dengan perilaku manusia yang semakin tidak terbatas, seraya memohon
ampunan-Nya. Wallahul Musta’an ila
Darissalam.
0 komentar:
Posting Komentar