Sabtu, 01 Februari 2014

CALEG YANG SEMAKIN VARIATIF

Saat menulis tentang calon legislatif, saya teringat syair lagu Sasak yang bercerita tentang semua orang ingin jadi Datu atau penguasa (entah sebagai bupati, wali kota, gubernur, DPR, kepala desa, kepala dusun, atau menjadi ketua RT). Sah-sah saja orang mau menjadi apapun asalkan memiliki kompetensi. Inilah demokrasi, semua bisa menjadi apapun yang diimpikan asalkan dipilih oleh masyarakat.

Tukang batu mele jari datu. Pengarat sampi mele jari datu. Tukang ojek mele jari datu. Pengangkut geres mele jari datu. Preman mele jari datu. Tukang sakap melen jari datu. Laguk sai jak pade pilek. Itulah gambar keinginan masyarakat yang ingin menjadi datu atau penguasa.


Tentu tidak ada yang salah dari semua keinginan masyarakat tersebut di atas. Malahan harus diapresiasi dengan baik karena hal itu berarti bahwa masyarakat telah sadar dan melek politik. Keinginan pelbagai lapisan masyarakat yang ingin mengundi nasib menjadi penguasa (baca DPR) berarti pula pendidikan politik sudah sukses. Atau jangan-jangan semua keinginan tersebut bentuk perlawanan dari mereka yang sudah bosan dibohongi terus menerus.

Lihat saja faktanya. Tukang ojek menjadi caleg. Pedagang bakso menjadi caleg. Pedagang angkringan menjadi caleg. Penggembala sapi menjadi caleg. Kusir cidomo menjadi caleg. Guru menjadi caleg. Bupati menjadi caleg. Gubernur, mentri, artis menjadi caleg. Tokoh agama menjadi caleg, dan semua menjadi caleg. Sekali lagi tidak ada yang salah dari semua keinginan masyarakat yang ingin menjadi datu atau penguasa (DPR).

Dalam konteks demokrasi, keinginan pelbagai komponen masyarakat menjadi caleg bukan fenomena baru tetapi sudah berlangsung lama dan sudah lama dipraktikkan di negara-negara demokrasi, seperti di AS. Tercatat beberapa aktor kawakan telah menjadi gubernur di negara bagian di Amerika, sebut saja George Bush, Bill Clinton, Silvestre. Di Indonesia sendiri sudah tercatat puluhan artis menjadi anggota DPR, menjadi Gubernur, dan Bupati/wali kota.

Caleg sudah sangat variatif. Masyarakat pemilih juga sudah mempunyai banyak pilihan untuk dipilih. Apakah masyarakat akan memilih artis, tukang ojek, tokoh agama, pengembala sapi, tukang batu, tukang bakso menjadi wakilnya di DPR. Entahlah masyarakat sendiri yang akan menentukannya. Inilah inti demokrasi yang sesungguhnya.

Pada sisi lain, semakin variatifnya para caleg itu tidak lepas dari keberpihakan partai politik untuk mengakomodirnya. Caleg pemilu 2014 tidak saja didominasi oleh para politisi, artis semata, tetapi juga dari lapisan masyarakat di grassroot, seperti tukang bakso, tukang ojek, dan bahkan sampai penggembala sapi. Melihat dari sisi baiknya, tentu baik. Lalu bagaimana dengan kualitas mereka jika terpilih menjadi anggota DPR?

Nah ini masalahnya. Yang sekarang saja wajah DPR kita sudah berada pada titik nadir keburaman (untuk tidak mengatakan hitam). Tetapi entahlah. Kualitas sepertinya menjadi permasalahan yang tidak terlalu penting di negeri tercinta ini. Apakah hal ini kita akui atau tidak. Terserah saja. Mari kita menjawab secara jujur dengan melibatkan hati nurani kita. Namun yang pasti bahwa kita berharap bahwa kualitas DPR hasil pemilu 2014 akan lebih bermutu dan berkualitas.

Adakah harapan tersebut akan menjadi kenyataan? Kita selaku pemilih yang akan menentukannya, apa kita butuh kualitas wakil kita yang duduk di legislatif atau tidak. Maksudnya memilihnya hanya untuk memenuhi selera tanpa dasar yang logis. Kemungkinan itu bisa terjadi. Semoga saja, semakin variatifnya para caleg pada pemilu 2014 melahirkan kualitas legislatif yang diharapkan.

Kediri, 20012014.10.35


0 komentar: