Selasa, 18 Oktober 2011

Esai-esai Budaya Sasak: Memaknai Kembali Kearifan Budaya Lokal (Midang)


Suatu malam (16/10/2011) di dusun Mesaleng desa Bagu, saya kebetulan bertemu seorang pemuda yang hendak berkunjung atau midang ke rumah salah seorang gadis di dusun itu. Saya melihat penampilannya sangat menyakinkan, ganteng, pakaian necis, celana panjang berwarna hitam, rambut disisir sangat rapi dan dari aromanya menggunakan minyak rambut merk Brisk. Penampilan si pemuda malam itu memang seharusnya dilakukan para pemuda yang hendak berkunjung ke rumah para gadis di bumi Sasak khususnya dan atau bertemu dengan calon mertua. Penampilan terbaik saat berkunjung ke rumah para gadis mesti dilakukan, kata Mahyudin Hs, M.Pdi (tokoh masyarakat) malam itu. Lebih lanjut dikatakan bahwa berpenampilan terbaik dimaksudkan untuk membangun image atau citra yang baik dari calon mertua dan si gadis khususnya.
Sambil lalu, saya sesekali mencuri pandang dan melihat pasangan muda mudi yang lagi asyik bercengkrama, senyam senyum, terdiam, dan lalu tertawa lirih, entah apa yang menjadi materi perbincangannya. Dasar muda mudi jaman sekarang, gerutu kawan Abdul Kadir, M.Pdi. Terlihat sepintas, memang pasangan muda mudi yang masih pada proses saling menjajagi, memahami, dan mungkin mencari kecocokan satu dengan lainnya. Penjajagan tersebut menjadi sesuatu yang jamak atau biasa dilakukan oleh pasangan muda- mudi sebagai proses awal guna mencari pasangan hidup dan dalam terminologi lokal etnis Sasak disebut “Midang”.
Midang dipahami masyarakat Sasak sebagai proses perkenalan atau pendekatan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya dengan maksud untuk mencari tahu latar belakang diri dan keluarga masing-masing pihak, dan endingnya untuk mendapatkan calon suami atau istri. Midang juga dapat diartikan sebagai suatu acara kunjung pacar yang dilakukan oleh para bujangan (remaja) suku Sasak ke tempat seorang gadis/janda dalam rangka perkenalan dan penjajagan.
Mencari tahu tentang asal-usul (bibit, bobot, bebet) dan siapa keluarga gadis menjadi salah satu tujuan midang. Pengetahuan tentang asal-usul keluarga itu sangat penting, karena dalam masyarakat Sasak status sosial masih diperhitungkan. Masyarakat Sasak yang mayoritas beragama Islam sangat memperhatikan nilai-nilai yang ada, baik nilai-nilai agama maupun adat istiadat.
Sebagai satu contoh yang sering ditemukan, bahwa apabila laki-laki dari kalangan tidak bangsawan menikah atau merarik dengan perempuan dari kaum bangsawan yang terpaksa harus dibuang dari kebangsawanannya karena tidak direstui oleh keluarganya, dengan alasan tidak sedarah (darah biru). Pengaruh dari pembuangan status kebangsawanan itu adalah tidak dibolehkannya pemakaian gelar kebangsawanan yang melekat pada perempuan untuk diturunkan ke anak-anaknya, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Artinya, pihak laki-laki bangsawan bebas menikah dengan siapa saja dan dari strata sosial manapun, gelar kebangsawanan itu tetap melekat dan dapat diwariskan kepada keturunannya.
Konsekuensi logis dari pelanggaran norma-norma adat tersebut memunculkan sanksi pembuangan gelar-gelar kebangsawanan, terutama bagi perempuan bangsawan menikah dengan laki-laki dari wangse yang lebih rendah. Sepertinya peraturan adat sudah given tetapi permasalahannya bagaimana menjembatani perbedaan status sosial itu. Dari banyak kasus yang terjadi selama ini status sosial masih menjadi faktor utama dalam menentukan pasangan hidup. Dan ini berarti bahwa tidak mudah bagi golongan jajar karang untuk mendapatkan pasangan hidup dari golongan perwangsa atau darah biru yang perempuan. Lain halnya dengan kaum laki-laki, mereka dapat menentukan sendiri calon istrinya, apakah itu dari golongan sendiri atau yang lebih rendah tidak menjadi  masalah karena sifat keturunan itu mengikuti darah ayahnya (Patriarchi).
Midang dengan demikian dianggap sebagai suatu media untuk saling kenal-mengenal antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk mengetahui pribadi masing-masing, agar tidak memunculkan kasus-kasus tersebut di atas. Oleh karena itu, saat proses pemidangan berlangsung si gadis ditemani oleh ibunya atau keluarga dekatnya, agar makna, dan tujuan dari midang tercapai.
Dalam mengungkapkan perasaan cintanya, si laki-laki terhadap perempuan ada yang secara langsung dan tidak langsung. Ungkapan secara tidak langsung dapat dilihat ketika seorang laki-laki datang midang ke tempat seorang perempuan. Biasanya mereka membawa aneka macam barang kebutuhan sehari-hari berupa gula pasir, tembakau, buah pinang, daun sirih dan ada pula yang membawa radio transistor. Maksudnya untuk menarik perhatian si gadis dan terutama orang tuanya agar lebih diperhatikan dan diterima dengan baik. Ada juga yang secara langsung mengungkapkan perasaan hatinya dengan menggunakan bahasa lelakaq (pantun).
            Seiring dengan perkembangan zaman yang begitu cepat di tambah dengan arus globalisasi, saat ini terjadi proses perubahan dalam sistem midang, dimana midang sudah hampir tidak di jumpai lagi. Sistem midang kelihatannya sudah mulai mengalami pergeseran ke arah yang agak bebas. Midang dapat dilakukan setiap saat di tempat-tempat yang sudah ditentukan sesuai perjanjian kedua pasangan. Keterlibatan orang tua dalam proses midang sudah tidak terlihat atau ditemukan lagi.
Ya, sudah ada pergeseran makna nilai adat dalam kearifan lokal midang (penuh dengan aturan-aturan mulia) itu ke arah lebih bebas dan terkesan tanpa kontrol dalam pemidangan. Pergeseran nilai itu dianggap sebagai sesuatu yang jamak dan suatu hal yang wajar karena perkembangan dari masyarakat itu sendiri.
Namun yang jelas, bahwa midang tetap merupakan sesuatu nilai yang penting yang mesti dipertahankan oleh masyarakat Suku Sasak karena mempunyai tujuan untuk mencari kecocokan antara kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan, tentang sifat kelakuan masing-masing demi terciptanya keharmonisan keluarganya untuk masa yang akan datang.
            Pergeseran makan midang itu juga diikuti dengan norma, pedoman, ukuran, dan aturan menjadi lebih longgar. Dalam literatur Filsafat, norma diartikan sebagai  sesuatu yang dipakai untuk mengukur sesuatu yang lain atau sebuah ukuran (H De Vos, 1987 : 27). Begitu juga midang yang dilakukan oleh pemuda atau remaja suku Sasak mempunyai norma-norma yang harus ditaati dan diikuti, terutama norma-norma agama dan adat.
Terdapat banyak norma-norma yang mesti ditaati dalam midang, kata Mahyudin Hs. Misalnya, saat menyambut tamunya (pemuda yang datang midang), si gadis menyambutnya di teras rumah atau sebuah tempat yang disebut berugak (terbuat dari kayu, mempunyai tiang empat buah atau enam buah, dan beratapkan ilalang). Perempuan atau gadis Sasak dalam menyambut kunjungan si pemuda ditemani oleh ibunya atau bisa juga oleh keluarganya yang lain apabila ibunya tidak ada. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga norma adat, nama baik keluarga di hadapan para tetangga dan untuk menghindarkan diri dari gunjingan orang lain. Atau dengan kata lain ketika midang mereka dilarang berdua-duaan.
Waktu midang biasanya, dilakukan pada malam hari, tepatnya sehabis sholat Isya' sampai sekitar pukul 22.30 WITA. Kenapa dipilih malam hari? Dari beberapa keterangan yang dikumpulkan dinyatakan bahwa waktu malam hari dianggap waktu yang baik dan tidak banyak mengganggu aktivitas masyarakat sasak umumnya. Karena, jika midang dilakukan pada waktu siang hari dapat mengganggu kegiatan dan aktivitas warga masyarakat sasak mengingat pada waktu siang hari mereka para pemuda atau bujangan sasak pergi ke sawah, ladang atau rau untuk membantu orang tua mereka membajak sawahnya. Begitu pula si perempuan pergi ke sawah untuk mengantarkan makanan kepada orang tua mereka yang sedang bekerja. Dengan demikian, waktu malam hari dianggap sebagai waktu yang baik dan tepat untuk melakukan midang.
Waktu midang bisanya di lakukan malam hari. Di masyarakat pedesaan, terlihat pemandangan yang sedikit berbeda dan terkesan unik di rumah perempuan ketika ada midang. Kenapa unik, karena laki-laki yang datang midang ke rumah si perempuan bisa lebih dari satu orang dan datang secara bergiliran sesuai waktu yang telah disepakati secara adat. Jika seorang lelaki melebihi batas waktu midang, maka para lelaki lain yang sudah menunggu giliran memberi isyarat atau tanda kepada lelaki yang berada di rumah perempuan. Pertanda atau isyarat batas waktu midang antara satu lelaki dengan lelaki lain dapat berupa berupa siulan, nyala lampu senter yang di arahkan ke rumah perempuan dan melemparkan kerikil kecil ke atap rumah si perempuan. Tanda atau syarat itu harus dipatuhi oleh para lelaki yang midang sebab kalau tidak dipatuhi dapat menimbulkan perkelahian setelah midang selesai.
Kedatangan para laki-laki secara bergiliran ke rumah perempuan itu menurut H. Abdul Wahid (kepala dusun Mesaleng) sebagai simbol bahwa si perempuan Sasak memang belum mengikatkan dirinya pada satu lelaki dan masih dalam proses penjajagan untuk sampai pada satu pilihan hati yang tepat dan cocok. Ketika perempuan sudah menentukan laki-laki pilihan hatinya, maka secara otomatis si perempuan tidak lagi menerima laki-laki lain untuk midang. Sementara, para lelaki Sasak juga menghormatinya dan tidak mendatangi si perempuan untuk di pidang.
Sebagai rasa empati dan demi membangun citra baik atau mencari perhatian si perempuan, para lelaki Sasak ketika bertemu dengan perempuan yang berada dalam kesibukan pekerjaan rumah, seperti menumbuk padi, memarut kelapa, menenun, dan pekerjaan lainnya, maka keadaan seperti itu dimanfaatkan oleh laki-laki yang datang midang untuk ikut membantu pekerjaan tersebut, sehingga suasana pemidangan menjadi lebih bersifat kekeluargaan dan tambah akrab.
Hal lainnya yang patut diperhatikan dalam midang yakni baik laki-laki maupun perempuan yang di pidang diharuskan untuk mengenakan pakaian yang rapi, bersih dan menggunakan bahasa yang halus selama dalam pemidangan. Mereka para lelaki  yang datang midang tetap harus menjunjung tinggi sopan santun. Ketika datang midang para lelaki Sasak biasanya mengucapkan salam "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh", lalu bersalaman dan begitu juga ketika mereka akan pulang.
Dengan demikian, midang sebagai sebuah konstruksi budaya kearifan lokal masyarakat Sasak  (yang kini sudah mulai terjangkiti virus globalisasi) seharusnya makna-makna positif dan nilai-nilai agama dan adat tetap terpelihara keasliannya untuk kemudian dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Cara-cara midang boleh saja berbeda sesuai konteks sejarahnya, tetapi makna midang sebagai media untuk mencari bibit, bobot dan bebet, tidak boleh berubah.
Cara-cara midang sebagai sebuah konstruksi masyarakat Sasak untuk mendapatkan jodoh harus tetap dijaga dan dilestarikan, selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan adat yang berlaku. Dan bila midang bertentangan dengan kedua norma tersebut tidak lantas diharamkan, apalagi dianggap sebagai a history, namun harus memaknai kembali agar sesuai dan selaras dengan norma yang berlaku. Dengan demikian, midang mesti di tempatkan dalam konteks budaya Sasak yang di dalamnya memiliki makna dan nilai positif yang sesuai dengan konteks jamannya. Wallahul Musta’an ila Darussalam.

*********



0 komentar: