Selasa, 09 April 2013

KAMPANYE HARUS SOLUTIF

Kesan masyarakat NTB selama kepemimpinan BARU (M. Zainul Majdi dan Badrul Munir) menjadi gubernur dan wakil gubernur kurang fokus pada penanganan program yang dihadapi masyarakat. Lihat saja misalnya, petani tembakau di Lombok masih menantikan program solutif untuk menjual hasil produksinya. Tembakau petani tidak mau dibeli oleh perusahaan, sementara pemerintah sendiri seakan tidak berdaya memaksa perusahaan untuk membeli tembakau petani. Di tengah ketidakberdayaan itu, terlihat pemerintah daerah dengan sangat terpaksa memberanikan diri untuk mencabut ijin usaha perusahaan tembakau yang bandel. Masalahnya kemudian, apa persoalan tembakau sudah selesai? Ternayata tidak, malah terkesan diambangkan.

Tentu, kita harus tetap berprasangka baik terhadap pemerintah untuk menyelesaikan pelbagai macam patologi sosial masyarakat Bumi Gora. Tidak hanya petani tembakau tetapi juga konflik social, kekerasan terhadap TKI yang berasal dari NTB (pulang tanpa nyawa), kesehatan yang tidak terurus dengan baik, biaya pendidikan yang semakin mahal, daya beli masyarakat semakin menurun yang kesemuanya bermuara pada IPM NTB yang tetap tidak bergerak (dari nomor 32). Kesemuanya memerlukan program solutif dan bukan janji-janji politik. Kini saatnya masyarakat untuk menagih janji-janji politik lima tahun lalu atau masyarakat akan dihipnotis kembali dengan politik pencitraan melalui bahasa agama, seperti Islamic Centre dan atau dengan program labeling seperti PIJAR.

Pelbagai lapisan masyarakat mulai mempertanyakan janji-janji kampanye Pemilu kepala daerah pasangan BARU lima tahun lalu. Memasuki pemilu gubernur mendatang, memori masyarakat yang berisi janji-janji politik kembali dibuka dan dipersoalkan. Apakah janji-janji politik gubernur inkamben sudah dibayar atau belum? Kalau belum dibayar, ya, kita minta dilunasi dulu dan baru kemudian berpikir untuk memilihnya kembali. Jika sudah, kita lanjutkan ikhtiar untuk memilihnya.
Lalu, apa yang dibutuhkan masyarakat? Kebutuhan masyarakat simple dan tidak neko-neko yaitu program-program solutif atas ketidakberuntungan dan permasalahan yang dialami selama ini. Nah, bagaimana dengan materi kampanye pemilu kepala daerah mendatang? Apakah janji-janji politik akan dikemas ulang dengan brand berbeda tetapi isinya sama saja? Atau masyarakat akan terpaksa memilih dengan alasan kontinuitas program yang telah dicanangkan, sebab kalau tidak pasti akan menjadi semboyan tanpa makna yang pada akhirnya masyarakat kembali dibohongi.

Kalau sebatas janji-janji politik lebih baik tidak berkampanye karena masyarakat sudah lelah dan tidak punya waktu untuk terus mendengarkan para kandidat membual. Yang kami butuhkan program-program solutif dan tindakan nyata, kata Amirullah (warga Lombok Barat). Bualan atau janji-janji kampanye politik itu semakin menyakiti masyarakat ketika ada korban jiwa akibat dari bentrokan atau gesekan antara pendukung calon kepala daerah saat kampanye.

Itulah hal-hal yang disampaikan pelbagai lapisan masyarakat mulai dari Petani Tembakau, petani Penyakap, Peternak, kusir cidomo, tukang ojek, buruh galian, pengusaha, Guru, Akademisi, sampai Buruh Bangunan tentang kampanye. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa mereka tidak terlalu antusias dengan materi-materi kampanye pemilu kepala daerah, karena para calon hanya menjual keberhasilan diri sendiri dan terlalu mengagungkan ashabiahnya (meminjam istilah Ibn Khaldun). Materi-materi kampanye para kandidat tidak solutif, tidak perduli dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat, memberikan janji-janji palsu dan tidak berempati sudah tidak layak dipertahankan. Program solutif dan bukti nyata menjadi keinginan masyarakat untuk menentukan pilihannya pada pemilu kepala daerah mendatang.

PROGRAM-PROGRAM SOLUTIF
Harus diakui bahwa program yang telah dituliskan oleh pasangan BARU (M. Zainul Majdi dan Badrul Munir) selaku gubernur dan wakil gubernur bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Bumi Gora untuk Beriman dan Berdaya Saing sesuai dengan Motto “NTB Bersaing”. Lima tahun masa kepemimpinan BARU, rasanya kita sudah kehabisan daya saing karena yang diharapkan sebagai motor penggeraknya jalan di tempat. Sementara masyarakat pendukungnya semakin melemah karena asupan gizi yang diberikan tidak seimbang dengan mainstream kekuasaan.

Kelebihan dan kekurangan program yang telah dicanangkan oleh gubernur M. Zainul Majdi, tentu harus dijadikan dasar oleh para pasangan calon gubernur untuk mengkonstruksi program-program yang berpihak kepada masyarakat miskin dan tidak beruntung. Dari hasil obrolan dengan pelbagai lapisan masyarakat dapat disimpulkan bahwa masyarakat sudah semakin kritis, rasional dan tidak mudah untuk di arahkan ke salah satu pasangan calon. Masyarakat sudah dapat memilih dengan mandiri berdasarkan program-program yang ditawarkan kepada masyarakat. Nah, pada kondisi seperti ini, pasangan calon gubernur harus mampu dan bisa mengambil hati masarakat dengan program-program yang solutif.

Sekarang ini, kita selaku masyarakat sudah mulai dihadapkan atau dipusingkan dengan banyaknya foto balon gubernur yang sudah nampang di sepanjang perjalanan. Tidak cukup di space iklan yang sudah tersedia, foto-foto balon gubernur juga di tempelkan pada pohon kayu, pagar rumah penduduk, tiang listrik dan pada semua tempat yang dimungkinkan untuk itu. Memang sih, masyarakat tidak pernah protes kenapa tembok rumah dan pagar rumahnya ditempelkan foto-foto orang yang tidak mereka kenal dan karena memang belum terkenal sehingga pemasangan pamplet dilakukan secara serampangan dan tanpa permisi. Saya yakin mereka akan diam tetapi saya tidak yakin juga kalau mereka tidak akan bereaksi, minimal mereka bertanya foto siapa ini?

Saya fikir, para tim sukses, penyelenggara pemilu dan pemda harus mengatur etiket pemasangan segala jenis peraga pemilu sehingga tampak indah terlihat oleh para tamu, apalagi pesona Lombok dan NTB sebagai tujuan wisata dunia. Boleh saja, mereka mengiklankan dirinya tetapi harus tetap menjaga keindahan dan etiket agar masyarakat yang ditempeli pamplet dan alat peraga balon gubernur tidak ngerumun atau atau bicara di belakang, syukur-syukur tidak sampai menyumpahi. Apa sih, beratnya mereka meminta keihlasan masyarakat untuk ditempeli rumah atau pagar rumahnya. Apalagi nantinya masyarakat mau terus mendukungnya atau memilihnya. Tidak ada salahnya untuk mencoba memperhatikan perkara yang remeh-temeh itu dan secara sosiologis pastinya punya pengaruh.

Memang, sudah banyak nama balon gubernur yang sudah menjadi pembicaraan publik di NTB. Sayangnya, dari sekian nama yang sudah muncul hanya sedikit saja dari mereka yang diketahui public atau track record-nya. Sehingga pada aras ini, semua cara harus dilakukan untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat, tetapi tidak dengan cara serampangan. Semua hal kecil yang tidak terpikirkan dalam mensosialisasikan dirinya, harus mulai di garap misalnya saja meminta keihlasan masyarakat untuk ditempeli rumah dan pagar rumahnya dengan pamplet dirinya. Tim sukses semua balon gubernur harus memperhatikan etiket pemasangan peraga itu agar masyarakat bersimpati ketika melihat pamplet (tidak malah merusaknya).

Dari empat pasangan calon gubernur yang akan bertarung, biasanya inkamben selalu diuntungkan untuk menyampaikan program-program dan janji-janji politik yang telah dilakukan dengan menumpang anggaran daerah. Itulah kesan dari para pesaing politik setiap kali incamben maju untuk bertarung kembali. Mungkin ada benarnya kesan itu dan mungkin salahnya juga besar karena apa yang diiklankan merupakan hasil capaian program yang telah dilakukan selama kepemimpinan dan yang jelas bukan kampanye tetapi sosialisasi hasil ketercapaian program pemerintahan.

Saat ini, para pasangan calon gubernur sedang mencitrakan dirinya sebagai manusia yang sangat dermawan, sederhana, mencintai, dan berempati terhadap nasib masyarakat miskin atau tidak beruntung. Mendadak dermawan, kata Sayuni, seorang warga Sedayu, Kediri, Lombok Barat. Itu lagu lama yang tidak mencerdaskan, tetapi tidak salah. Blusukan ala Joko Widodo pun sudah mulai diuji cobakan. Beberapa calon gubernur ketika turun berkunjung ke masyarakat, sudah ada yang mau dibonceng sama tukang ojek padahal selama menjadi pejabat baru kali ini dia lakukan. Kelihatan baik, merakyat dan berempati tetapi kelihatan kaku dan dibuat-buat. Mengapa tidak tampil apa adanya sebagaimana biasanya.

Masyarakat akan sangat menghargai apapun style dan bentuk pemimpinnya. Tidak usah meniru style kepemimpinan orang lain, apalagi style ala Joko Widodo, tampil sesuai dengan apa kata dirinya. Kesuksesan seorang pemimpin terletak pada kemampuan membaca dan merasakan penderitaan masyarakat yang dipimpinnya. Apa dan siapapun pemimpinnya pasti masyarakat menerima dengan senang hati, apalagi sang pemimpin datang membawa bantuan guna membayar janji-janji politiknya, ungkap Sayuni.

Incamben di samping diuntungkan oleh keadaan (karena masih menjabat), juga ditagih oleh keadaan. Maksudnya, incamben ditagih oleh masyarakat untuk menepati janji-janji politik terdahulu. Jika tidak, maka masyarakat pemilih akan berfikir ulang untuk memilihnya kembali. Mengapa? karena janji-janji politik yang terdahulu saja belum ditepati, kemudian sekarang akan berjanji kembali dengan modal “lanjutkan”. Modal ini menjadi trend dan kebiasaan dari para pejabat yang akan maju kembali menjadi pemimpin, baik tingkat nasional maupun daerah. Logika dan modal yang paling ampuh untuk meyakinkan masyarakat pemilih, namun ironisnya kadang terjebak pada apologisme keakuannya. Maksudnya, seakan-akan apa yang telah dilakukannya merupakan hasil kerja dirinya kemudian melupakan lembaga legislative sebagai mitra kerjanya. Setidaknya, hal itu terungkap pada acara Mataram Dialog Forum (MDF) yang ditayangkan live oleh Tv9 Mataram.

Masalahnya, program-program solutif apa yang akan dipasarkan ke masyarakat untuk keberlangsungan hidupnya? Para kandidat pasangan Calon Gubernur NTB sudah mulai memperkenalkan program dan janji-janji politik kepada masyarakat. Masih efektif janji-janji politik itu atau masyarakat sudah jenuh? Kalau ya, lalu apa yang diharapkan masyarakat dari kampanye para pasangan calon gubernur NTB?
Para pasangan calon, seharusnya sudah mulai mempersiapkan program-program yang akan dilakukannya jika terpilih menjadi gubernur. Program itu menyangkut dari mana sumber dananya, siapa yang terlibat dalam pelaksanaan program itu, berapa lama waktu yang dibutuhkan dan apakah program-program itu menjadi kebutuhan masyarakat atau tidak. Inilah yang saya bayangkan tentang program kampanye politik yang akan disampaikan para pasangan calon gubernur. Bukannya janji-janji politik yang tidak matang dan asal-asalan.

Dari tayangan iklan sosialisasi para pasangan calon, terbaca bahwa mereka masih mengumbar janji-janji politik yang sebenarnya tidak perlu, karena memang sudah disiapkan anggarannya dalam APBN seperti pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Pendidikan gratis misalnya tidak perlu diturunkan menjadi program kampanye politik sebab APBN sudah menyiapkan anggaran untuk pendidikan wajib 12 Tahun atau perbaikan dari wajib belajar 9 Tahun. Artinya, pemerintah daerah hanya mensukseskan program wajib pendidikan 12 Tahun. Dan begitu juga dengan kesehatan gratis.

Jika mereka mau, maka konstruksi program kampanye politik yang bersifat inovatif dalam rangka pengembangan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat yang anggarannya hasil ikhtiar dari para pasangan calon. Mungkinkah? Kenapa tidak. Misalnya, memberikan tunjangan bagi orang tua jompo setiap bulan, karena sudah tidak mampu lagi bekerja untuk mencari nafkah. Menjamin hidup anak jalanan yang setiap hari mengamen atau meminta-minta di setiap perempatan jalan; dan menentramkan hati manusia tuna netra yang tidak beruntung hidupnya. Sungguh sengsara dan nelangsa nasib mereka, seolah mereka hidup di dunia lain yang pemerintahnya masa bodoh terhadapnya.

Kata sahabat Kamrullah (Dekan Fakultas Syari’ah IAI Qamarul Huda Bagu), bagus kalau pasangan calon punya program untuk memberikan jaminan hidup buat mereka yang tidak beruntung secara structural maupun budaya. Masalahnya, kira-kira dari mana anggarannya diperoleh? Menurut hemat saya, bisa saja anggarannya di dapatkan dari dana CSR setiap perusahaan, apakah itu perbankan, perusahaan tambang dan atau perusahaan lainnya. Pada aras ini, masalahnya pada kemauan politik (political will) dari para pasangan gubernur terpilih nantinya.

Saya yakin, masyarakat menanti apapun program yang akan dipasarkan oleh pasangan calon gubernur. Siapapun yang terpilih menjadi gubernur pada tanggal 13 Mei 2013 mendatang, itulah putra terbaik pilihan masyarakat NTB. Siapapun dia, harus mengemban amanah rakyat untuk membawa masyarakat dan daerah NTB menjadi lebih baik. Masyarakat NTB harus lebih sejahtera dari sekarang ini, terutama diukur dari tingkat pendapatan masyarakat perharinya. Yang terpenting dan harus disadari bahwa gubernur NTB mendatang adalah gubernur NTB dalam arti yang sebenarnya, milik semua orang NTB. Titik. Itu saja, tidak perlu muluk-muluk, kata sahabat saya di sebuah warung kopi di Narmada. Siapapun gubernurnya, tegasnya. Semoga kita dapat memilih gubernur dengan aman dan demokratis berlandaskan nilai kejujuran dan kesantunan politik. Program politik solutif yang sangat diharapkan oleh masyarakat NTB atas permasalahan hidup yang membelenggunya selama ini.

Wallahul Muwafiq ila Darissalam. 09042013 (tepian sungai Pitung Bangsit Kediri).


0 komentar: