Rabu, 19 September 2012

MASANYA ULAMA MENYATU

Film The Innocence of Muslims telah melukai ummat Islam di seluruh dunia (tarlebih Muslim di Indonesia). Film yang disutradarai oleh warga Amerika itu dinilai sangat kontroversial dan dinilai sebagai upaya negara Barat untuk mendeskriditkan Islam. Munculnya film tersebut boleh jadi sebagai bentuk phobia negara Barat terhadap kemajuan Islam, teru

tama semenjak adanya peristiwa WTC Tahun 2000 silam. Harus diakui bahwa banyak hal yang berdampak kepada kehidupan sosial negara Barat khususnya Amerika Serikat.

Protes dan tuntutan dengan turun ke jalan kepada pemerintah Amerika Serikat untuk tidak memutar film itu terus terjadi di belahan dunia. Sepanjang penglihatan dan pemantauan beberapa hari ini, tampak aksi protes itu berjalan normal dan wajar, tetapi yang dikhawatirkan jangan sampai menimbulkan dampak yang lebih besar, seperti konflik atas nama agama. Kalau itu yang terjadi bisa repot dan kemungkinan bisa menjadi titik awal terjadinya perang peradaban sebagaimana Huntington mengungkapkannya dalam bukunya. Tentu, pemerintah Amerika Serikat harus peka terhadap semua protes ummat Islam di seluruh dunia itu supaya tidak mengarah ke konflik atas nama agama.

Namun demikian, kita tetap khawatir terhadap berbagai macam aksi protes itu, jangan-jangan situasi itu dimanfaatkan betul oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Banyak pihak yang memakai jaket Islam untuk untuk menyebarkan isu negatif guna mengharapkan reaksi lebih besar lagi, misalnya saja sampai merusak tempat-tempat ibadah agama lain (khususnya Gereja).

Pada aras ini, ulama Indonesia harus turun gunung untuk memberikan penyadaran dan mempromosikan bahwa Islam merupakan agama rahmatan lil alamien, agama yang cintai damai dan sangat toleran. Ulama Indonesia harus mengambil bagian untuk mempromosikan kedamaian dan mengusahakan agar Indonesia bisa menjadi kiblat Islam baru yakni Islam yang sangat mencintai kedamaian dan suka berdamai. Dalam banyak forum yang diselenggarakan, tampak bahwa tokoh-tokoh lintas agama sering bertemu untuk melakukan dialog keagamaan dan pada tataran formal negara telah mewadahi dialog itu dalam Forum Kerukunan Antar Ummat Beragama (FKUB).

Secara alamiah, perbedaan menjadi sesuatu yang given dan diterima apa adanya, namun tidak berarti hal itu sebagai modal untuk terus berkonflik tetapi harusnya menempatkan perbedaan itu sebagai media untuk bisa bersatu. Rasulullah Saw dalam sabdanya mengakui bahwa perbedaan itu sebagai rahmat. Atau perbedaan itu sebagai bentuk pengakuan dan peneguhan eksistensi dasar manusia sebagai mahluk yang berbeda namun demikian di dalmnya terdapat potensi untuk bersatu dan bekerjasama.

Ya, konflik atas nama agama mungkin saja terjadi, kalau Ulama dan pemerintah tidak cepat melakukan tindakan kerjasama mencegah terjadinya konflik agama. Konflik agama mungkin saja terjadi karena berbagai sebab, seperti pemerintahnya lemah, ketidaktahuan rakyat, dan ulama sendiri tidak mengayomi ummatnya. Ulama berada pada garda terdepan memberikan penyadaran bahwa kita di Indonesia hidup dalam negara yang majemuk atau plural dan bersama-sama menjaga kemajemukan sebagai ikrar kebersamaan "bheneka tunggal ika" berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Ikrar kebangsaan itu merupakan wujud kemajemukan dan faham akan asal usul negara Indonesia yang memang majemuk atau plural. Beragama di negara Indonesia sudah dijamin dalam konstitusi negara dan bebas melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing, tetapi ketika sudah memasuki ranah publik harus menjaga pluralitas dan jangan sampai menciptakan konflik dengan dalih agama.

Semua warga negara yang mempunyai keyakinan harus tetap memberikan kontribusi dalam menjaga pluralitas kebangsaan. Agama apapun punya ajaran tentang keikhlasan, terutama agama Islam sangat menganjurkan ummatnya ikhlas, menjaga fikiran yang baik (husnu dzon) terhadap siapapun. Ulama sebagai warasatul anbiya'i harus memelihara keikhlasan sebagai sebuah ajaran untuk menjaga ketentraman dan kedamaian dalam satu bingkai kehidupan kenegaraan yang bernama Indonesia. Semoga dengan kerjasama yang baik antara Ulama dan umara' di Indonesia konflik atas nama agama dapat dicegah dan dengan demikian negara Indonesia dapat menjelma menjadi negara yang mencintai kedamaian di tengah pluralitas, sehingga Indonesia menjadi fajar baru kehidupan Islam. Wallahul muwaffiq ila Darissalam.

0 komentar: