Minggu, 16 Juni 2013

MAAFKAN, KAMI TELAH KHILAF TUHAN

Seharusnya, itulah kalimat penyesalan yang harus terucapkan oleh para orang tua yang anak-anaknya menjadi pelaku dan atau kurban kekerasan. Ya, kami telah khilaf dalam memberikan pendidikan dan pengajaran terbaik bagi mereka. Kami benar-benar telah alpa Tuhan untuk hadir memberikan pengarahan terhadap anak-anak kami. Apapun yang mereka perbuat pasti ada sebab dan akibatnya, itulah hukum kausalitas yang telah ditetapkan Tuhan.

Siapapun pasti akan mengakui bahwa tindakan kekerasan semakin meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitasnya, terutama kekerasan terhadap anak-anak dan wanita. Dari data sepanjang tahun 2010 sampai 2013 tampak grafik kekerasan terus meningkat terhadap anak-anak dan wanita. Pada tahun 2010 terdapat 42 kasus kekerasan disertai pemerkosaan. Berlanjut di tahun 2011 meningkat menjadi 52 kasus. Lalu pada tahun 2012 meningkat menjadi 63 kasus dan pada tahun 2013 melonjak tajam menjadi 132 kasus kekerasan. Belum lagi kasus-kasus yang berkaitan dengan tawuran dan kekerasan di dunia pendidikan.


Membaca tindak kekerasan yang semakin meningkat di atas, tentu membuat masyarakat sangat prihatin dan keluarga sebagai bagian dari masyarakat yang paling merasakan dampaknya, baik dalam makna moral maupun psikis. Apa yang terjadi dengan institusi keluarga sehingga semakin meningkat tindakan kekerasan yang dilakukan anak-anak bangsa. Kemudian, mengapa seolah negara alpa dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. Apakah hal itu pertanda bahwa negara telah gagal dalam menjamin kehidupan aman bagi rakyatnya.

Pertanyaan demi pertanyaan bisa terus dimunculkan ketika senyatanya tindakan kekerasan semakin meningkat. Dan pertanyaan itu dapat diarahkan bagi institusi negara maupun institusi keluarga. Hal ini, tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan tetapi untuk mencoba menemukan sebab musabab kekerasan untuk kemudian mencarikan solusinya. Melihat secara hitam putih atas pelbagai tindakan kekerasan juga tidak pada tempatnya sebab akan menambah luka dan keprihatinan.
Secara teoritis, penyebab kekerasan bisa disebabkan oleh kemiskinan, budaya dan pola asuh yang keliru. Faktor kemiskinan memang dapat menjadi penyumbang tindakan kekerasan dan bahkan bisa lebih parah lagi karena kemiakinan orang bisa menggadai imannya. Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa "kaadal fakru ayyakunal kufron" artinya terkadang kemiskinan dapat membuat orang menjadi kafir atau ingkar lepada Tuhan. Karena itu, orang bisa menjadi buta mata hati dan batinnya disebabkan kemiskinannya.

Sebenarnya, kata Sukanah seorang mantan preman, kami tidak ingin menjadi preman, melakukan penganiayaan, membunuh, mencuri, mencopet dan sampai memperkosa orang. Semua itu, kami lakukan karena terpaksa, tidak ada pekerjaan yang mau mendekat dan yang tersisa hanya pekerjaan tetsebut. Kami tahu, apa yang kami lakukan salah dan melanggar rasa keadilan masyarakat. Apa boleh buat dan harus kami lakukan sekedar untuk menyambung hidup. Sampai suatu ketika kami diberikan pekerjaan layak yang membawa kami untuk meninggalkan pekerjaan melanggar hukum dan kesusilaan.

Kami tersadar setelah kelahiran anak-anak kami. Batinku terus meronta sebab tidak mungkin kami akan membesarkan anak-anak dengan cara-cara yang tidak halal. Cukup kami yang menanggung beban dan kesalahan yang telah diperbuat, biarkan mereka bahagia dengan asupan rizki yang halal dan baik. Kemiskinan memang telah membuat kami terjerumus ke dunia hitam dan keras.

Faktor budaya bisa jadi juga sebagai penyumbang kuantitas kekerasan di negeri katulistiwa ini. Menurut Devi Rahmawati, seorang pengamat sosial budaya menyatakan bahwa budaya memang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Bayangkan saja, seekor anak elang pemakan daging bisa kehilangan naluri sebagai pemakan daging karena dierami dan dibesarkan oleh seekor angsa. Si anak elang bertindak tanduk seperti kawanan angsa lainnya. Dan memang tampak aneh dan janggal tetapi itulah kenyataannya. Lalu, bagaimana dengan manusia?

Burung saja bisa dan pasti manusia bisa. Itulah logika sederhana. Watak dan karakter manusia bisa terbentuk sesuai dengan lingkungannya. Anak manusia bisa menjadi keras, cepat tersinggung, suka berkelahi karema terbentuk oleh lingkungan budayanya. Anak manusia bisa juga berperilaku lemah lembut, suka menolong, dan sangat perduli dengan orang lain karena lingkungan budaya yang membentuknya. Budaya seolah sebagai orang tua asuhnya sementara orang tuanya sendiri tidak berdaya menghadapi bentukan lingkungan budayanya.

Mahatma Gandi, Gus Dur dan Bunda Theresia memiliki karakter pembela orang yang termarjinalkan karena memang mereka hidup dan besar dalam lingkungan yang marginal pada masanya. Mereka menjadi pembela hak-hak minoritas karena memang dihadapkan pada permasalahan negara yang tidak memberikan kenyamanan bagi warga minoritas. Negara masih saja alpa dalam memberikan rasa aman dan keadilan bagi warga masyarakat minoritas. Mereka tampil untuk mengisi ruang kosong itu demi kemanusiaan.

Pola asuh yang salah, juga menjadi faktor penyebab tindakan kekerasan. Sebagai orang tua, terkadang sering tidak menyadari bahwa berkelahi dan adu mulut antara ayah dengan anak, sebenarnya bisa membuat anak itu kalau besar menjadi pembuat onar dan selalu bikin masalah. Karena sejak kecil sudah terbiasa melihat perkelahian orang tuanya.

Menyerahkan kepengasuhan anak kepada pembantu rumah tangga, bisa menjadi faktor lainnya yang membuat anak suka dunia kekerasan. Mereka oleh orang tuanya dididik dengan uang, uang dan uang. Kasih sayang orang tua sudah terwakilkan dengan uang. Jangan heran, kalau kemudian si anak lebih menyanyangi pembantu daripada orang tua aslinya. Kalau sudah seperti ini, baru orang tua tersadar bahwa mereka telah alpa dalam mengasuh anaknya.

Kealpaan dalam memberikan kasih sayang, harus di bayar mahal oleh para orang tua. Misalnya mereka harus menanggung malu akibat perilaku anak-anaknya yang terjerumus ke dalam narkoba, dunia remang-remang sampai perkelahian dan bahkan menjadi pembunuh. Dalam konteks ini, yang bisa dilakukan hanya memohon maaf kepada Tuhan karena telah alpa dalam mendidik mereka. Mereka harus mengakui bahwa amanah Tuhan untuk mendidik anak-anak titipan Tuhan telah gagal. Tuhan maafkan kami atas segala kekhilapan dan kealpaan. Wallahul Muwafiq ila Darissalam.

Hotel Lombok Raya, Mataram. 10062013.20.50.59


0 komentar: