Rabu, 27 November 2013

MAAFKAN ANAK DIDIKMU, GURU

Naluriku berkata, sebenarnya tidak ada seorang dari anak didik yang mau melawan atau tidak hormat terhadap para guru. Terkadang, sikap-sikap pembangkangan muncul di sekolahan sebagai reaksi terhadap lingkungan yang tidak bersahabat dan tidak ramah. Lingkungan bisa bermakna kondisi keluarga dan masyarakat yang mengidolakan atau memainstreamkan sesuatu secara berlebihan serta memarginalkan sesuatu secara hitam putih.

Kondisi tersebut memaksa anak didik untuk bersikap aneh, membuat onar, membikin tawuran, dan melawan guru-gurunya. Kondisi keluarga dan masyarakat yang katakanlah sangat kaku telah membuat anak sekolahan tertekan dan stres. Untuk dapat keluar dari kondisi seperti itu, anak didik mencari kondisi yang tidak ketat untuk dapat bereaksi melawan kebiasaan yang sudah mentradisi. Lingkungan sekolah bisa jadi merupakan lingkungan tempat anak didik untuk berbuat sesukanya dengan cara melanggar aturan, tata tertib sekolah, seperti membolos, tidak masuk sekolah, dan atau kalaupun masuk sekolah pasti membuat gaduh serta menjahili kawan perempuannya.


Perilaku anak didik seperti itu, sebenarnya tidak dihendakinya. Jangan kira, mereka enjoi, senang dan tidak tertekan atas semua tindakannya yang selalu membuat masalah. Mereka merasa takut, tertekan, dan murung ketika kawan-kawan lainnya menjauh. Terus terang pak, kata salah satu siswa SMK di Lombok Barat, sebenarnya saya tidak mau seperti ini. Lalu mengapa kamu berbuat seperti ini? Karena saya marah kepada ayah saya yang terlalu mengistimewakan saudara saya. Dia selalu dibela, dipuji dan dituruti semua keinginannya, sementara saya tidak. Dan yang paling membuatku kesal, kata siswa itu, saya tidak pernah dianggap mampu berbuat baik oleh ayah saya, padahal saya sudah mau berubah, tetapi ayah saya selalu menganggapku salah. Lalu, saya harus bagaimana pak?

Potret perilaku anak didik seperti itu, membuat para guru terkadang meradang dan tidak sedikit dari mereka ikutan menghakimi anak didiknya sebagai anak nakal, pembuat onar, dan tidak hormat terhadap gurunya. Tentu, penghakiman para guru terhadap perilaku anak didiknya yang nakal tidak dapat dipersalahkan dan tidak pula dapat dibenarkan semua. Hal itu sebagai akibat dari perubahan paradigma pendidikan yang selalu berubah secara simultan setiap kali ada pergantian pemerintahan.

Namun, sebagai guru seharusnya mampu berbuat dan membimbing anak didiknya sadar akan posisinya sebagai pembelajar yang harus taat kepada aturan dan tata krama kesopanan. Guru sebagai pewaris nabi dalam memberikan pengajaran kepada anak manusia tidak boleh terlalu cepat terpengaruh atas kondisi yang nampak, tetapi guru harus mampu membaca peta situasi sosial dan kebatinan anak didiknya. Guru menurut saya adalah manusia pilihan dan memiliki kompetisi kejiwaan yang paripurna. Guru tidak perlu sangat pintar, tetapi guru harus mampu membuat anak didiknya menjadi pintar, cerdas, dan mampu bersaing, serta dapat berinovasi membangun dunianya.

Dengan demikian, indikator kesuksesan guru mendidik anak didiknya adalah mampu mencerdaskan dan mengembangkan potensi anak didiknya sukses dalam hidupnya. Philosophy pendidikan ala Rasulullah Muhammad Saw tercermin pada kemampuan membuat para sahabatnya menjadi sumbu kehidupan pada setiap zamannya. Beliau adalah sosok pendidik yang tiada duanya di jagat dunia ini. Karena kepribadian agungnya, beliau telah mampu merubah Umar bin Khttab yang dijuluki Singa Padang Pasir luluh dan bertekuk lutut, serta menjadi pengikut setianya. Dan tidak hanya itu, Umar bin Khattab rela menyerahkan jiwa raganya memback up Rasulullah Saw untuk kesuksesan menjalankan amanah Tuhan memberikan pengajaran kepada ummat manusia.

Sangat tersanjung kiranya, kalau kita sebagai guru mampu menggurui perilaku agung Rasulullah Saw dalam memberikan pengajaran kepada anak didik. Anak nakal, anak pembikin onar, anak suka bolos, dan anak penyulut sumbu tawuran sesamanya bisa terpecahkan dengan cepat bila para guru memiliki sikap dan sifat agung. Sabar, sopan dan santun dalam memberi pengajaran bisa menjadi resep mujarab mengubah perilaku anak didik yang menyimpang.
Sekeras apapun hati dan watak anak didik, kalau dihadapi dengan lemah lembut dan kesabaran pasti akan melembek sebagai Umar bin Khattab.

Karena itu, untuk mengubah perilaku menyimpang anak didik kita, menurut hemat saya harus dilakukan bersama-sama antara sekolah, orang tua wali, dan masyarakat. Ketiganya harus bersinergi dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik. Perilaku menyimpang yang di bawanya ke sekolah merupakan konstruksi nilai yang diinternalisasi dari keluarga dan masyarakatnya. Sehingga pada aras ini, tidak ada cara lain untuk mengubah perilaku menyimpang anak didik selain melakukan sinerginitas tiga institusi tersebut di atas.

Guruku, kata Siswa SMK tersebut di atas, maafkan aku yang telah merepotkanmu, telah membuatmu marah, kesal, dan bahkan sampai menyurati orang tuaku. Aku tidak kuasa untuk menasehati orang tuaku sendiri, maka dari itu panggil dan berikan pengajaran kepadanya agar tahu cara tersantun memiliki dan menyayangi anak. Guru, maafkan aku yang telah lancang menambah pekerjaan untuk memberikan pengajaran kepada orang tuaku. Guruku, akhirnya ku pasrahkan kepada Tuhan untuk memberikan balasan atas kebaikan dan keikhlasan memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kami. Maafkan kami guru, engkaulah pahlawan sejati dalam hidupku, pahlawan tanpa tanda jasa. Wallahul Muwafiq ila Darissalam.

Pinggir Kolam Balakang Rumahku. Tanak Beak, 26112013.08.16


0 komentar: