Kamis, 21 November 2013

PERILAKU POLITIK KODOK DONGKLANG

Di Tahun Politik semua bisa terjadi. Hitam bisa jadi putih; hijau bisa jadi abu-abu; coklat bisa jadi putih abu-abu, dan putih abu-abu bisa jadi tidak berwarna sama sekali. Begitu pula dengan perilaku politik yang dipamerkan oleh para politisi kita. Loncat dari satu partai lalu bergantung pada partai lain seakan sudah menjadi kebiasaan yang tidak jelas parameternya. Maksudnya kebiasaan pindah dari satu partai ke partai lain sudah jamak dilakukan oleh para politisi dengan tanpa ada sangsi apapun dari partai asalnya. Perilaku dan kebiasaan praktek politik seperti itu bukan menjadi dilema demokrasi yang dianggap serius untuk dicarikan solusinya.

Potret perilaku politik loncat partai menunjukkan bahwa sistem kaderisasi partai politik tidak berjalan dengan baik. Juga membuktikan bahwa ideologi partai politik sudah tersamarkan dari filosophy utamanya untuk sekedar bersaing mengapai kekuasan ansich. Undang-undang partai politik Nomor 2 Tahun 2011 sebenarnya sudah mengatur tata cara rekrutmen dan kaderisasi anggota partai politik, dan termasuk pendidikan politik bagi kader partai politik. Hanya saja sebagian besar partai politik tidak menganggap urgen pendidikan politik sehingga loncat pagar kader partai politik dianggap suatu kewajaran dan tidak melanggar aturan apapun. Perilaku politik seperti itu yang saya sebut sebagai perilaku politik Kodok Dongklang.

Istilah Kodok Dongklang merupakan istilah yang saya konstruksi dari cerita kawan saya yang bernama Zulkarnaen Alexander. Kondok Dongklang kata Zulkarnaen biasanya hidup di dalam kolam yang di dalamnya terdapat tetumbuhan seperti Kangkung, Eceng Gondok dan tetumbuhan lainnya yang sejenis. Kebiasaan Kodok Dongklang selalu melompat dari satu dedaunan ke dedaunan lainnya dalam kolam yang selalu tampak asri dan hijau. Kodok Dongklang tidak akan pernah melompat ke dedaunan kering walaupun terlihat hijau tetapi tidak prospek untuk kelangsungan hidupnya. Kecerdasan memilah tempat untuk berpijak seakan menjadi salah satu ciri khas dari Kodok Dongklang. Karena itu, Kodok Dongklang pada bagian tubuhnya berwarna hijau yang akan membedakannya dengan Kodok-kodok lainnya.

Bukan rahasia umum, bahwa perilaku politik Kodok Dongklang telah menghinggapi para politisi kita. Diakui atau tidak itulah potret politik yang terus berproses untuk mencari bentuknya. Percaya atau tidak, bukankah banyak diantara para politisi yang selalu berpindah-pindah partai politik menjelang perhelatan pemilu legislatif dan kenyataannya mereka tetap terpilih untuk melenggang ke kursi empuk legislatif. Pada konteks ini, rakyat tidak pada posisi dipersalahkan untuk memilih politisi Kodok Dongklang. tetapi partai politik yang tidak melakukan amanah undang-undang partai politik yang seharusnya dipersalahkan.

Terkesan bahwa partai politik memang sengaja mengabaikan proses rekrutmen secara wajar. Buktinya, sebagian besar partai politik dalam perekrutan calon legislatif pemilu 2014 sangat instan sehingga asalkan caleg itu populer maka serta merta langsung terdaptar menjadi calon legislatif. Fenomena para artis menjadi calon legislatif, pasangan kepala daerah, dan calon presiden semakin membenarkan kesan instan penetapan para calon wakil atau pemimpin rakyat. Kesan, kritikan atau apapun bentuknya tetap saja tidak mengubah pendirian partai politik untuk tetap menjalan proses perekrutan calon legislatif secara instan. "Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu", kata pepatah.

Rakyat tetaplah sebagai rakyat yang pasti dibutuhkan ketika menjelang perhelatan pemilihan umum. Saat pemilu usai dan partai politik sudah menggapai kekuasaan, maka rakyat tetap berada pada posisi di awal startnya semula. Kembali bergelut dengan dunia kedirian dan komunitasnya yang tetap berkeluh kesah dengan perilaku politik yang tidak memihaknya. Begitu sebaliknya, para wakil rakyat yang terpilih semakin terhipnotis dengan kenikmatan menggenggam kekuasaan.

Kondisi dan fakta politik seperti itu akan semakin membuat rakyat semakin apatis untuk mengikuti pemilu 2014 mendatang. Bahkan kalau mengacu kepada hasil survei LSI yang merilis bahwa pada pemilu 2014 mendatang tingkat ketidakikutsertaan pemilih mencapai angka 65% lebih. Terus terang kita sangat terkejut dengan hasil survei tersebut dan bila hal itu terbukti maka bisa menjadi sejarah pemilu terburuk sepanjang sejarah pemilu di indonesia. Bukankah, parameter kesuksesan pemilu sangat tergantung pada kesertaan masyarakat untuk memilih. 

Kalau nantinya hasil survei tersebut terbukti, maka bisa jadi masyarakat memang sudah cerdas dan sadar untuk menggunakan hak pilihnya. Memilih untuk tidak memilih sangat mungkin menjadi pilihan rasional akibat dari perilaku elit-elit partai dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai politik yang ada. Perilaku politik loncat pagar atau perilaku politik Kodok Dongklang oleh masyarakat sudah dianggap tidak beretika dan tidak punya pendidirian politik (kecuali hasrat untuk berkuasa). Oleh karena itu, masyarakat menganggapnya sebagai perilaku yang tidak punya pendirian, mencla mencle, munafik dan tidak layak dipilih. Nah, kalau sudah begini siapa yang menanggung akibatnya? Mari kita menilainya berdasarkan hati nurani masing-masing.

Sadarlah bahwa pesta dalam setiap pemilu adalah milik rakyat, karena itu rakyat pula yang akan menentukan bahwa apakah pesta itu meriah atau tidak. Pemilu tanpa rakyat ibarat pesta tanpa sajian, terasa hambar dan sunyi senyap. Perilaku politik Kodok Dongklang dengan demikian dapat dianggap sebagai perilaku politik yang tidak beretika dan merusak rasa kepercayaan diri rakyat yang telah memilihnya. Sehingga pada aras ini, rakyat tidak pada posisi dipersalahkan sebab apa yang dilakukan rakyat sebagai reaksi balik atas perilaku politik yang tidak beretika. 

Semoga saja, para politisi segera mengakhiri perilaku politik Kodok Dongklang sehingga kepercayaan rakyat akan tumbuh kembali menjelang perhelatan pemilihan umum 2014. Siapapun pasti tidak berharap pemilihan umum 2014 tidak sukses. 

Lantai II Kampus IAI Qamarul Huda, Bagu, 21112014.0459. 

0 komentar: