Rabu, 03 Juli 2013

EKSTRAORDINARY MAN


Albert Einstein menyatakan bahwa semua yang kita lihat dan rasakan adalah ilusi bukan realita. Realita adalah ilusi yang gigih. Kita semua tahu bahwa manusia tidak bisa terbang. Manusia terbang adalah ilusi dalam dongeng. Namun karena kegigihan dua orang yakni Orville Wright dan Wilbur Wright maka manusia terbang menjadi realita.

Tentu kita patut berterima kasih kepada Orville dan Wilbur Wright atas usahanya yang gigih bisa mengubah sesuatu yang ilusi menjadi realita. Kini manusia bisa terbang kemanapun yang dikehendaki dengan mengunakan pesawat terbang dalam waktu singkat dan bahkan atas kemajuan sain dan teknologi manusia bisa menjelajah ke planet lain, seperti bulan.


Di atas ketinggian 10 ribu kaki dari bumi, saya menikmati penerbangan menuju Banjarmasin Kalimantan Selatan. Selama perjalanan, pesawat Lion Air yang kami tumpangi berjalan mulus dan tidak banyak getaran karena memang cuaca yang lagi baik. Kiri kanan tampak awan berarak dengan teratur dan tidak tampak gerakan untuk melawan sunnatullah yang sudah di tetapkan Tuhan. Ini salah satu satu kuasa Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini.

Menjelajah menggunakan pesawat di atas ketinggian puluhan ribu kaki dari bumi terasa belum seberapa tinggi dibandingkan dengan perjalanan Rasulullah Muhammad Saw menggapai sidratul muntaha untuk menerima perintah shalat yang dikenal dengan israk dan mikraj. Sampai kini belum terungkap secara pasti berapa puluh ribu kaki jarak sidratul muntaha dari bumi. Kita juga belum tahu pasti, apakah perjalanan menjelajah bumi menuju sidratul muntaha tidak mengalami guncangan hebat sebagaimana guncangan yang dialami ketika naik pesawat terbang. Bulum bisa dibuktikan sampai saat ini karena memang hanya Rasulullah Muhammad Saw yang mengalaminya.

Tentu, saya tidak membanding-bandingkan manusia bisa terbang dengan pencapaian teknologi pesawat terbang dengan perjalanan israk dan mikraj baginda nabi Muhammad Saw. Namun yang terpenting adalah bagaimana kegigihan dan kerja keras manusia untuk mewujudkan manusia bisa terbang. Ini bukan perkara mudah dan tanpa kegagalan berkali-kali. Saya yakin pasti akan mengalami dan butuh waktu lama untuk merancang teknologi agar manusia bisa terbang.

Thomas Alpa Edison menyatakan bahwa keberhasilan manusia mewujudkan suatu tujuan merupakan ramuan kecerdasan dan kerja keras. Kecerdasan manusia hanya menyumbang 1% keberhasilan manusia dan 99% sisanya merupakan kerja keras yang terus menerus. Kalau begitu cukup kerja keras dan kegigihan membawa orang menjadi super sukses atau extraordinari. Dalam konteks Islam ditambah dengan doa di samping kedua hal tersebut.

Dalam perspektif psikologi, keberhasilan atau kegagalan adalah keputusan manusia sendiri. Seseorang berhasil atau sukses karena ia memutuskan untuk berhasil atau sukses dan seseorang gagal karena ia memutuskan untuk menyerah dan gagal. Hal ini sangat berkaitan dengan prasangka baik dan prasangka buruk. Kalau seseorang berprasangka baik kepada orang lain, maka jalannya menjadi baik, dan begitu pula sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan keberuntungan? Bukankah ada banyak orang yang berhasil atau sukses karena keberuntungan? Memang betul, tetapi seberapa banyak seseorang sukses karena keberuntungan, pasti tidak terus menerus. Mike Weisberg menyatakan bahwa keberhasilan tanpa dibarengi dengan sikap yang benar adalah keberuntungan sedangkan keberhasilan yang dibarengi dengan sikap yang benar adalah pencapaian. Sehingga pasrah dan menyerah adalah dua hal yang berbeda.

Dari hasil penelitian, sebagaimana termuat dalam majalah Lionmag disebutkan bahwa ada empat kelompok manusia berdasarkan usaha yang dikerahkan untuk bisa mennggapai keberhasilan atau manusia luar biasa (extraordinari men). Kelompok pertama disebut dengan quitter, yakni kelompok manusia yang mudah menyerah dan akhirnya berhenti berusaha. Manusia jenis ini diperkirakan 30% dari manusia yang ada dimuka bumi. Kelompok kedua disebut camper, yakni manusia yang terus berupaya menggapai cita-citanya sampai berhasil tetapi cepat puas. Manusia jenis ini mencapai angka 60% dari penduduk dunia. Ketiga, disebut climber yakni manusia yang terus menerus berusaha sampai mencapai puncak sukses. Kelompok keempat yang disebut dengan extraordinari men, yakni kelompok yang dengan kegigihan, keuletan, kesabaran dan kerelaan untuk meninggalkan kenyamanannya dan bahkan kejayaan akhirnya akan digantikan oleh hasil yang sangat luar biasa. Inilah manusia extraordinari men atau insan kamil meminjam istilah Muhamad Iqbal.

Dari empat tipe kelompok manusia itu, tentu kita harus mampu menggapai cita-cita untuk menjadi manusia yang luar biasa. Extraordinari tidak dimaksudkan sebagai manusia yang tahu semua, tetapi manusia yang mampu menggapai puncak kesuksesan dalam satu bidang tertentu, misalnya menjadi sosiolog, dokter, arkeolog, psikiater, aresitek dan keahlian lainnya.

Dibutuhkan kapabilitas dan tujuan yang akan menghantarkan someone extraordinary. Kapabilitas adalah kekuatan dan kemampuan mencapai sesuatu sedangkan tujuan adalah sesuatu yang hendak dicapai dengan menggunakan kapabilitas. Keduanya menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan, karena kapabilitas tanpa tujuan akan menjadi usaha sia-sia atau mubazir. Sebaliknya tujuan tanpa kapabilitas tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Sehingga kata kuncinya adalah memiliki kapabilitas yang tepat untuk tujuan yang ingin dicapai.

Hasil usaha dari 1% manusia extraordinary ini yang membuat manusia bisa terbang dengan menggunakan pelbagai tipe pesawat terbang. Diterbangkannya manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan pesawat terbang merupakan wujud dari kapabilitas yang tepat untuk suatu tujuan yang mulia. Satu demi satu dari yang awalnya ilusi bisa berubah menjadi realitas. Dalam konteks filsafat ilmu disebut sebagai palsifikasi. Tantangannya kemudian, mampu kita masuk ke dalam kelompok extraordinari ataukah cukup berpuas berada pada kelompok quitter, camper ataukah climber saja. Hanya kita sendiri yang mampu memasukkan diri di kelompok mana kita berada. Kalau diharuskan memilih, tentu akan memilih menjadi manusia extraordinary agar mampu memberikan manfaat untuk banyak orang. Wallahul Muwafiq ila Darissalam.

Hotel Rattan In, Banjarmasin, Kalsel 27062013.16.13.39

0 komentar: