Senin, 22 Juli 2013

RAMADHAN BULAN AL-QU'AN

Pukul dua dini hari, saya terbangun dari tidur pendek sebab baru bisa tertidur sekitar pukul 00.30 wita. Saya bangkit lalu mencoba ke luar dan duduk di teras rumah. Dari suara loudspeaker, saya mendengar sayup-sayup orang yang melantunkan ayat-ayat suci alqur'an. Suara itu datang dan pergi karena tertiup angin dini hari yang terasa berbeda dengan biasanya. Hawa pagi ini terasa agak dingin tetapi tidak sampai merasuk ke tulang sum-sum. Apa mereka tidak tidur, tanyaku dalam hati. Pasti tidak tidur lah, menjawab pertanyaan yang ku tanyakan sendiri. Buktinya, masih jelas terdengar suara orang mengaji. Karena itu bulan Ramadhan layak disebut sebagai bulan alqur'an. Mungkin sebutan ini tidak salah sebab faktanya seusai shalat tarawih ummat Islam berkumpul untuk tadarrusan membaca alqur'an sampai dini hari dan bahkan sampai menjelang makan sahur.


Mereka bertadarrusan membaca alqur'an karena menjadi kitab suci ummat Islam yang diturunkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Di samping itu kita meyakini bahwa alqur'an mempunyai sekian banyak fungsi. Sebagai bukti kebenaran kenabian Rasulullah Muhammad Saw. Memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syari'ah, dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil kemudian Allah Swt menugaskan Rasul Saw untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu. Di samping keterangan yang diberikan Rasulullah Saw. Allah Swt perintahkan kepada seluruh umat manusia agar memperhatikan dan mempelajari alqur'an (Shihab, 1992:33). Dengan demikian mempelajari alqur'an adalah kewajiban karena merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan akhirat kelak. Pada aras ini alqur'an mempunyai satu sendi yang utama berfungsi sebagai petunjuk (huda lil an-nas) ke jalan yang sebaik-baiknya, sebagaimana penegasan alqur'an:"Petunjuk bagi manusia, keterangan mengenai petunjuk serta pemisah antara yang hak dan bathil (QS 2: 185).

Gairah atau himmah ummat Islam membaca alqur'an, terutama pada bulan Ramadhan tidak pernah pupus. Mereka kuat dan berlama-lama untuk membacanya sampai pagi menjelang makan sahur. Hal itu, mereka lakukan sebagai prosesi untuk menggapai derajat Muttaqien dan bertemu lailatul qadr (suatu malam yang utama dibanding seribu bulan). Acara tadarrusan sampai hatam alqur'an sebanyak puluhan kali pada bulan Ramadhan menjadi tradisi yang baik dan positif. Tentu, tidak ada menyangkalnya bila dilihat dari konteks tersebut. Hanya masalahnya, mengapa tradisi itu hanya ada pada bulan Ramadhan saja dan memgapa tradisi itu tidak berlanjut ke bulan yang lainnya?

Tentu, saya tidak menafikan upaya-upaya yang telah dan masih berlangsung di banyak tempat yang mengkaji dan menghafal alqur'an. Namun tidak semeriah tadarrusan alqur'an pada bulan Ramadhan. Nah, untuk terus dapat membumikan alqur'an adalah menjadi tugas para ulama dan Asatidz serta Asatidzah untuk terus mensyiarkan alqur'an. Momen bulan suci Ramadhan ini menjadi momen yang tepat bagi penerang Islam untuk melakukan penjelasan akan sifat dan fungsi alqur'an sehingga merasuk ke sanubari ummat Islam. Tradisi tadarrusan alqur'an yang baik dan positif ini harus diinstitusionalisasikan agar bisa berlanjut pada bulan-bulan berikutnya sehingga fungsinya sebagai way of life, pembeda yang benar dan bathil bisa menjadi prinsip serta pegangan dalam menjalani kehidupan yang Islami. Jika hal ini bisa terwujud maka pastinya akan terwujud suatu tatanan masyarakat atau manusia yang qur'ani. Inilah hakikat dari manusia Muttaqien. Manusia Muttaqien balasannya hanya Jannatunaiem yang masuk melalui pintu Arrayyan.

Kita berharap agar tradisi tadarrusan alqur'an selama bulan Ramadhan mampu memberikan efek positif bagi pembentukan karakter yang qur'ani guna menggapai gelar Muttaqien. Ramadhan sebagai budaya alqur'an bisa menjadi pintu masuk membentuk manusia Muttaqien, selama mempunyai pengaruh terhadap perubahan tingkah laku manusia setelah Ramadhan meninggalkan kita untuk bersua kembali sebelas bulan berikutnya. Dengan demikian yang harus dilakukan adalah mencoba mengambil pelajaran dari setiap detik dari daur waktu perjalanan Ramadhan yang terus beproses sesuai hukum alam. Jangan sampai detik-detik waktu Ramadhan hilang dengan kesia-siaan sampai kita mampu menghiasinya dengan perbuatan yang baik, bermanfaat bagi sesama dan positif bagi diri sendiri. Sadar atau tidak selama ini kita hanya mampu berbuat dan menghiasi Ramadhan sebatas hanya untuk menggugurkan kewajiban. Tentu tidak salah, namun akan sangat rugi kalau kita tidak mampu meningkatkan kualitas puasa kita ke tingkatan puasanya kelompok khawas bila mungkin puasanya para hawasul hawas. Dengan demikian puasa yang kita lakukan akan lebih bernilai tinggi di bulan Al-Qur'an. Semoga. Wallahul Muwafiq ila Darissalam.

Jalan Gebong, Tanak Beak, 10072013.07.16.59


0 komentar: